Jogja  (ANTARA Jogja) - Pasien gagal ginjal kronis yang menjalani cuci darah rutin akan mengalami problem biopsikososial yang sangat kompleks, sehingga membutuhkan perawatan paliatif, kata pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sagiran.

"Perawatan paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan lainnya, memberikan dukungan spiritual, dan psikososial kepada pasien mulai saat diagnosis ditegakkan sampai akhir hayat," katanya di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia dalam penelitiannya berjudul "`Paliative Care` di Rumah Sakit Islam dengan Konsep Husnul Khatimah pada Pasien Gagal Ginjal", perawatan paliatif tidak mempedulikan stadium dini atau lanjut, masih bisa disembuhkan atau tidak. Perawatan paliatif mutlak harus diberikan kepada penderita.

"Perawatan paliatif tidak berhenti setelah penderita meninggal, tetapi masih diteruskan dengan memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang berduka," kata dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Keperawatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Ia mengatakan, perawatan paliatif tidak hanya sebatas aspek fisik dari penderita yang ditangani, tetapi juga aspek lain seperti psikologis, sosial, dan spiritual. Pasien gagal ginjal yang diberikan terapi paliatif adalah yang berada pada stadium lima.

"Perawatan paliatif membutuhkan tim kerja yang terdiri atas berbagai multidisiplin ilmu karena ilmu kedokteran pada zaman sekarang telah berkembang menjadi adanya interaksi dari fisik, emosional, fungsional, psikologis, sosial, dan aspek spiritual," katanya.

Menurut dia, semua multidisiplin ilmu tersebut akan dilakukan secara holistik karena perawatan paliatif berbeda dari kuratif dan harus melakukan pendekatan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang "utuh".

"Tim perawatan paliatif dapat terdiri atas dokter, perawat, psikiater, petugas sosial medis, rohaniwan, terapis, dan anggota lain sesuai dengan kebutuhan," kata kepala Bagian bedah FKIK UMY itu.

Ia mengatakan, setiap anggota tim seyogianya memahami dan menguasai prinsip dan praktik perawatan paliatif.

"Tim harus berani menjamin bahwa pasien akan mendapat pelayanan seutuhnya baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dengan cara baik dan dalam porsi yang seimbang," kata Sagiran.

(B015)

Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar