Jogja (ANTARA Jogja) - Pemerintah Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami kesulitan memasarkan hasil perkebunan salak pondoh hasil panen masyarakat setempat.

"Kami mengalami kesulitan memasarkan hasil panen salak pondoh, karena kami tidak memiliki merek khusus sehingga petani menjual hasil salak pondoh ke Kabupaten Sleman dan kalau dijual sendiri harganya sangat jatuh," kata Camat Girimulyo Widodo di Kulon Progo, Senin.

Ia mengatakan, salak pondok Girimulyo dihasilkan di Desa Jatimulyo dan Purwosari. Salah Pondoh Girimulyo memiliki ciri khusus yakni dagingnya tebal dan rasanya sangat manis.

"Sebetulnya, salak pondoh Girimulyo lebih unggul dibandingkan dengan salah pondok produksi Kabupaten Sleman. Hanya saja, salak pondoh Girimulyo belum bermerek dan harus mengikuti standar pasar di Sleman," kata Widodo.

Untuk pemasaran tingkat lokal, kata Widodo, sangat tergantung pada jumlah pengunjung wisata di Gua Kiskenda dan Gua Lawangsih.

"Kalau dua objek wisata andalan Girimulyo ini sangat sepi, kami juga tidak bisa lagi berbuat banyak untuk memasarkan salah pondoh Girimulyo," kata dia.

Selain sala pondoh, kata Widodo, Kecamatan Girimulyo juga memiliki komoditas unggulan perkebunan yakni cengkih dan kakao. Untuk tanaman Cengkih dihasilkan di Desa Jatimulyo, Purwosari, sebagian Pendowoharjo dan Giripurwo.

Tanaman Kakao terdapat di Desa Giripurwo. Rencanannya, pemerintah Kulon Progo akan melakukan perluasan lahan kakao seluas 100 hektare pada musim hujan atau sekitar Oktober atau November.

"Sesuai kebijakan pemerintah Kabupaten Kulon Progo, tanaman perkebunan tidak boleh tumpangsari dan harus monokultur sehingga hasil perkebunan dapat maksimal. Untuk itu, kami terus mengimbau masyarakat untuk melakukan penyeragaman dan peremajaan tanaman," kata Widodo.

(KR-STR)

Editor: Mamiek
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar