Jogja (ANTARA Jogja) - Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menargetkan dalam lima tahun ini populasi 14 jenis satwa langka dan dilindungi akan meningkat.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Dorori di Yogyakarta, Jumat, mengatakan ke 14 satwa langka dan dilindungi yang harus bisa meningkat populasinya itu, di antaranya harimau, gajah, tapir, anoa, maleo, komodo, serta badak.

"Kami menargetkan satwa-satwa tersebut harus bisa meningkat populasinya, baik di habitatnya maupun di luar habitat satwa tersebut," katanya seusai pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBI) 2012.

Ia mengatakan kebun binatang dan taman satwa sebagai lembaga konservasi, memiliki peran strategis dalam ikut meningkatkan populasi satwa langka dan dilindungi itu di luar habitatnya.

Lembaga konservasi dalam upaya ikut meningkatkan populasi satwa langka tidak perlu memperoleh izin Presiden, tetapi cukup dari Menteri Kehutanan.

Izin dari Presiden hanya untuk satwa kategori langka I atau apendik I yang akan dikirim ke luar negeri, misalnya gajah.

"Satwa langka kategori apendik I yang akan ditukar dengan satwa di luar negeri memang harus minta izin Presiden," katanya.

Ia mengatakan PKBSI memiliki kepentingan untuk saling tukar satwa, karena ada kebun binatang yang kelebihan satwa, dan ada yang kurang koleksinya.

Hanya saja, menurut dia, tukar menukar satwa diikuti dengan penyediaan tempat untuk satwa yang bagus, pakan tersedia cukup, dan jangan sampai terlantar.

"Kini saatnya kebun binatang sebagai lembaga konservasi dikelola dengan baik, dan wawasannya tidak konvensional. Jadi, bukan saatnya lagi satwa ditempatkan di kerangkeng atau kandang yang sempit, tetapi justru sebaliknya, pengunjung yang dikandangkan. Misalnya, pengunjung naik mobil, dan satwanya dilepas bebas seperti di taman safari," katanya.

Rakornas dengan tuan rumah Gembira Loka Zoo Yogyakarta yang dijadwalkan berlangsung hingga 16 September ini, dibuka Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti.

(H008)

Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar