Cilacap (ANTARA Jogja) - Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Cilacap menyatakan wilayah Jawa Tengah bagian selatan mulai diguyur hujan, setelah sempat mengalami gangguan cuaca dalam satu pekan terakhir.


"Tadi pagi di beberapa wilayah terpantau turun hujan meskipun intensitasnya ringan. Kondisi ini diprakirakan masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan dan selanjutnya diprakirakan kembali normal," kata prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Sabtu.


Menurut dia, gangguan cuaca di wilayah Jateng selatan yang telah memasuki musim hujan ini akibat pengaruh badai Son-Phin yang muncul di Laut China Selatan barat Filipina.


Akibat badai tersebut, kata dia, awan hujan yang telah tumbuh di wilayah selatan Jawa dan barat Sumatra tersapu angin yang menuju ke pusat badai sehingga wilayah tersebut cenderung tidak terjadi hujan.


"Saat ini, badai Son-Phin telah melemah karena posisinya telah mendekati daratan Korea. Selain itu, di daratan Australia muncul daerah pusat tekanan rendah yang saat ini tekanan udara di pusatnya telah mencapai 1.009 milibar," katanya.


Dengan demikian, kata dia, hujan diprakirakan akan kembali turun secara normal dalam beberapa hari ke depan sehingga petani dapat mengolah sawah mereka agar bisa ditanami padi.


Sementara itu, petani di sebagian wilayah Kabupaten Cilacap hingga saat ini belum mulai mengolah sawahnya karena masih kering pascakemarau meskipun sempat diguyur hujan sekitar dua pekan lalu.


Dari pantauan, areal persawahan yang masih kering di antaranya tersebar di sebagian Kecamatan Adipala, Kesugihan, dan Kawunganten.


Salah seorang petani di Adipala, Katam, mengaku bahwa dirinya belum bisa mengolah sawahnya karena tidak terjangkau saluran irigasi.


"Saluran irigasi dari Bendung Gerak Serayu tidak menjangkau wilayah ini sehingga kami belum bisa mengolah sawah karena harus menunggu hujan turun. Mungkin November baru turun hujan," katanya.


Hal yang sama juga dikeluhkan petani di Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, yang mengandalkan turunnya hujan agar sawah mereka bisa diolah.


"Aliran irigasi dari Sungai Citanduy tidak menjangkau desa ini. Namun, kalau hujannya sudah turun normal, justru sering terjadi banjir karena desa ini merupakan daerah buangan saluran irigasi Citanduy," katanya.


Sementara itu, sebagian besar areal persawahan di Kecamatan Maos telah selesai masa tanam karena wilayah ini dialiri saluran irigasi dari Bendung Gerak Serayu.


Bahkan, beberapa areal persawahan di Desa Maos Lor dan Penisihan hampir memasuki masa panen yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.


(KR-SMT)


 

Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar