Jogja (Antara Jogja) - Jumlah guru pendamping khusus sekolah inklusi di Daerah Istimewa Yogyakarta belum memadai mendekati tahun ajaran baru 2013/2014.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Baskara Aji di Yogyakarta, Rabu, mengatakan kebutuhan guru merupakan masalah utama dalam penyelenggaraan aktivitas belajar mengajar sekolah inklusi di daerah ini.

"Untuk mewujudkan pengajaran yang maksimal tentu dibutuhkan jumlah pengajar yang memadai," katanya

seiring dengan kebutuhan guru pendamping khusus (GPK), pihaknya akan merekrut guru-guru mata pelajaran noninklusi untuk dilatih mengenai metode pengajaran pendidikan inklusi.

"Karena jumlahnya yang tidak banyak, guru-guru mata pelajaran noninklusi bisa kami rekrut untuk mendapatkan pelatihan pengajaran sehingga dapat menjadi GPK di sekolah inklusi," katanya.

Sedikitnya jumlah guru hingga saat ini menjadi keluhan para murid maupun wali murid karena pengajaran yang dilakukan oleh masing-masing GPK kurang maksimal karena jumlahnya yang terbatas.

Frekuensi pengajaran masing-masing GPK di tiap-tiap sekolah inklusi, kata dia, terpaksa dikurangi karena mereka harus berbagi untuk mengajar ke sekolah-sekolah inklusi yang lain.

Jumlah sekolah di tiap-tiap wilayah kabupaten atau kota di DIY yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi hingga saat ini sebanyak 350 sekolah mulai SD hingga SMA baik negeri maupun swasta.

Sebelumnya, pihak Disdikpora DIY pada 2012 telah mengajukan penambahan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB) sebagai penutup kekurangan guru di sekolah inklusi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Namun, sesuai dengan Peraturan Pemerintah yang berlaku, untuk tahun kemarin memang belum ada formasi untuk penambahan guru baru.

"Apabila memang nanti ada penambahan guru PNS tentunya diharapkan yang berlatar belakang PLB agar disesuaikan dengan kapasitasnya," katanya.

(KR-LQH)

Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar