Bantul (Antara Jogja) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sedang melakukan pendataan keberadaan kesenian tradisional yang telah menjadi warisan budaya di daerah itu.

"Tahun ini mulai ada pendataan terhadap semua kesenian tradisional warisan budaya mulai dari jenis keseniannya kelompok seni juga senimannya," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul Heni Rahmawati, Sabtu.

Menurut dia, pendataan kesenian tradisional warisan budaya di Bantul bertujuan untuk mengetahui secara pasti keberadaannya agar semakin tidak menghilang akibat kurangnya perhatian dari pemerintah maupun pemerhati budaya.

Apalagi, kata dia, di Bantul yang terdapat puluhan jenis kesenian tradisional yang tersebar di sebanyak 75 desa saat ini diakui ada beberapa yang hampir punah karena jarang dipentaskan oleh generasi penerus.

"Selain upaya pelestarian, pendataan juga bertujuan untuk keperluan database dinas, guna menjawab banyaknya pertanyaan baik dari akademisi dan pemerhati budaya terkait data kesenian warisan leluhur," katanya.

Menurut dia, dengan dimiliknya database kesenian warisan budaya itu diharapkan dapat mendukung pengembangan destinasi pariwisata di Bantul, termasuk mengenalkan warisan budaya yang pernah ada agar semakin dikenal masyarakat luas.

"Di Bantul ada beberapa desa yang terkenal dengan budayanya seperti di Kasongan yang terdapat kesenian Langen Mondro Wanoro dan di Jagalan dengan kesenian Srandul atau tarian rakyat yang diiringi alat musik tradisional (gamelan)," katanya.

Oleh sebab itu, kata dia, perlunya suatu upaya untuk melestarikan seperti memfasilitasi untuk bisa ditampilkan sebagai suatu pertunjukan seni baik melalui dinas ataupun melalui pentas kesenian rakyat.

"Tahun ini kami juga akan menggelar Festival Parangtritis yang menampilkan seluruh kesenian yang ada di Bantul, harapannya kesenian warisan budaya yang mulai hilang dapat dimunculkan kembali agar tambah dikenal masyarakat," katanya.

Menurut dia, pihaknya juga telah mendata dan mencatat sebanyak 214 kawasan dan bangunan cagar budaya (KCB/BCB) yang berupa situs, bangunan kuno, tempat peninggalan bersejarah termasuk gua yang sudah ada jaman penjajahan dan joglo yang usianya sudah puluhan hingga ratusan tahun.

"Hingga 2012, kami sudah melakukan pendataan bangunan dan kawasan cagar budaya untuk diusulkan pemeliharaan dan perawatan ke pemerintah provinsi, karena hampir 70 persen kondisinya rusak karena tidak terawat" katanya.

(KR-HRI)

Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar