Gula semut Kulon Progo dijual kemasan

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo meninjau gudang gula semut curah di Kecamatan Kokap. Pemkan Kulon Progo merencakan akan mengembangkan industri agro gula semut untuk menaikan nilai jual komoditas unggulan wilayah setempat. (Humas Kabupaten Kulon Progo)

Berita Terkait
Kulon Progo (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong kelompok usaha kecil dan perajin gula semut menjual produk dalam bentuk sachet dengan sasaran pemenuhan kebutuhan hotel-hotel.

Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan, saat ini perajin dan pelaku usaha kecil menangah (UKM) menjual dalam bentuk curah sehingga nilai jual lebih rendah dibandingkan jika dalam bentuk sachet.

"Kecamatan Kokap merupakan sentra gula merah dan berkembnang pembuatan gula semut. Tapi sangat disayangkan masih dijual curah, kedepan dijual sachet seperti untuk memenuhi kebutuhan di hotel-hotel, yang pabriknya nanti di Kulon Progo yakni Sentolo dan investor Insya Allah telah ada. Jadi koperasi-koperasi gula semut nanti ditampung di pabrik tersebut, harapannya kesejahteraan petani meningkat,"kata Hasto.

Menurut Hasto, saat ini gula semut tergantung pada ekspor namun harus mengeluarkan biaya ratusan juta untuk membayar sertifikasi organik dan geografis, sehingga dengan adanya pabrik yang mengemas dalam bentuk sachet, bisa dalam negeri meskipun tidak menutup nantinya di ekspor.

Seorang eksportir gula semut dart CV Menorehpolitan, Suparyono mengatakan produksi gula semut di Kulon Progo surplus hingga 3 ton per minggu.

Saat ini, kata dia, pengusaha hanya mampu mengirimkan 9 ton gula semut saja dalam sepekan, sedangkan produksi mencapai 12 ton. Akibatnya terjadi penumpukan stok gula semut.

"Surplus produksi gula semut terjadi karena masyarakat yang biasa memproduksi gula jawa batok beralih ke gula semut. Peralihan dipicu turunnya harga gula jawa sedangkan harga gula semut lebih stabil," katanya.

Ia mengatakan, semakin dikenalnya gula semut di kalangan internasional,petani yang beralih ke gula semut setelah harga gula jawa turun.

Dia menjelaskan, surplus produksi gula semut sebenarnya cukup menguntungkan jika saja semua petani memiliki oven pengering. Dengan begitu, gula semut yang disetorkan sudah dalam keadaan kering. Sehingga gula semut dapat disimpan untuk menutup kekurangan pasokan di musim kering.

"Sekarang repotnya tidak semua petani punya oven. Jadi banyak gula semut yang disetor dalam kondisi basah. Membagikan oven satu persatu juga tidak mungkin karena terlalu mahal. Kalau kering kan bisa disimpan untuk tahun depan saat musim kering,"kata dia.

(KR-STR)

Editor: Mamiek
COPYRIGHT © 2014

Komentar Pembaca
Kirim Komentar