Selasa, 23 Mei 2017

POTADS Yogyakarta harapkan tidak ada lagi perundungan

id anak
POTADS Yogyakarta harapkan tidak ada lagi perundungan
Ilustrasi anak-anak sedang bermain ( foto kerjaanrimba.wordpress.com)
Jogja  (Antara) - Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome Yogyakarta berharap tidak ada lagi perundungan yang dialami anak-anak disabilitas tersebut saat bersosialisasi di masyarakat.

"Masih ada saja stigma negatif terhadap anak dengan `down syndrome` di masyarakat sehingga anak-anak itu rentan mengalami perundungan," kata Ketua Pusat Informasi dan Kesehatan (PIK) Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Yogyakarta Sri Rejeki Ekasasi di sela peringatan Hari Sindroma Down Dunia di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, perundungan tersebut terjadi karena masyarakat belum banyak memahami "down syndrome" sehingga kerap mengejek anak-anak tersebut dengan berbagai sebutan yang kurang baik.

"Padahal, anak-anak tersebut juga memiliki perasaan. Sebaiknya, masyarakat tidak gampang mengucapkan hal-hal tersebut karena anak-anak dengan `down syndrome` juga memiliki kemampuan untuk bisa melakukan berbagai hal, sama seperti anak normal lainnya jika diberi kesempatan," katanya.

Sri Rejeki mengatakan, potensi perundungan di masyarakat justru lebih besar dibanding saat anak-anak dengan down syndrome tersebut bersosialisasi di sekolah.

"Guru atau siswa di lingkungan sekolah biasanya sudah mengerti dan memahami kondisi teman mereka yang berkebutuhan khusus. Mereka biasanya justru membantu dan saling menghargai," katanya.

Oleh karena itu, lanjut Sri Rejeki, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap down syndrome. POTADS Yogyakarta akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat.

"Untuk melakukan sosialisasi dibutuhkan usaha yang cukup besar karena kami pun harus terus menguatkan lembaga yang ada ini terlebih dulu," katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Sidroma Down Dunia Yogyakarta Ludyarto Wibowo berharap, masyarakat yang memiliki anak dengan down syndrome tidak lagi menyembunyikan anak mereka.

"Orang tua terkadang merasa takut atau malu jika memiliki anak dengan down syndrome. Jika mereka berkumpul dengan komunitas yang sama, maka mereka bisa saling berbagi ilmu," katanya.

Saat ini, lanjut dia, sudah ada ratusan warga yang tergabung di POTADS namun hanya 52 orang tua saja yang aktif dalam mengikuti berbagai kegiatan.

"Belum ada data pasti mengenai jumlah anak dengan down syndrome di Yogyakarta," katanya.

Sementara itu, untuk peringatan Hari Sindroma Down Dunia Yogyakarta, diisi dengan pentas seni dari sejumlah lembaga seperti unit kegiatan mahasiswa dan SLB Pembina serta SDLB Tegar Harapan Sleman.

(E013)

Editor: Hery Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga