Selasa, 25 Juli 2017

Festival Musik Tembi diharapkan beri ruang musisi

id Festival musik
Bantul (Antara) - Festival Musik Tembi yang digelar di Tembi Rumah Budaya Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 18-21 Mei 2017 diharapkan bisa memberikan ruang apresiasi dan wawasan bagi komposer dan musisi untuk berkembang.

"Festival Musik Tembi masih konsisten memberikan ruang apresiasi dan wawasan bagi komposer dan musisi yang ingin mengembangkan karya tanpa sekat genre," kata panitia Festival Musik Tembi (FMT) Indra Waskitohadi di Tembi Rumah Budaya Bantul, Kamis.

Menurut dia, FMT merupakan agenda tahunan yang digelar Tembi Rumah Budaya, yang pada 2017 ini merupakan tahun ke-7. FMT ini akan menyajikan berbagai penampil yang mempresentasikan gabungan tradisi dan kreasi.

"FMT ini juga bertujuan membangun `laboratorium` bersama yang bertujuan menjunjung nilai-nilai kebudayaan melalui ragam bunyi-bunyian nusantara," katanya.

Pada FMT kali ini, kata dia, mengambil tema `Mercusuara`, atau Mercu yang merupakan tempat atau bagian tertinggi, sedangkan `suara` adalah bagian utama dalam festival. Sehingga Mercusuara menggambarkan semangat tinggi terhadap tatanan estetika yang luhur melalui ragam nada nusantara.

"Dengan tema ini diharapkan karya musik dengan nilai-nilai luhur tradisi akan bersinergi dengan identitas kebudayaan yang ada serta musik yang kini berkembang secara dinamis," katanya.

Selain menyajikan berbagai penampil, kata dia, dalam FMT akan ada lokakarya `Jelajah Kreatif Ritmik` bersama maestro, composer, pemain sekaligus pendidik yang pernah bekerja sama dengan maestro ternama.

"Dan di hari ketiga, FMT semakin semarak dengan penampil Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks, kelompok musik yang dikenal pengusung aliran dangdut ini untuk pertama kalinya tampil di Yogyakarta," katanya.

Ia mengatakan, selain menyuguhkan berbagai penampil, ada juga pasar FMT yang menyediakan berbagai pernak-pernik musik dan merchandise.

"Ke depannya diharapkan FMT dapat menjadi salah satu wadah yang selalu mengangkat keluhuran bunyi-bunyian tradisi dengan balutan masa kini, serta tempat berinteraksi dalam kreasi demi mewujudkan sebuah komunikasi yang dinamis," katanya.

(KR-HRI)

Editor: Hery Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga