Sabtu, 23 September 2017

Napak tilas Proklamasi (6) - Ketegangan pada 17 Agustus 1945

id Napak tilas Proklamasi kemerdekaan indonesia
Napak tilas Proklamasi (6) - Ketegangan pada 17 Agustus 1945
Sejumlah pemuda-pemudi berpose usai menggelar apel bersama di halaman Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur, Jumat (7/4). Dalam kegiatan tersebut mereka berikrar untuk tetap setia pada Pancasila dan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945. . (ANTARA FOTO/Didik Suhartono/aww/17)
Oleh Dewanto Samodro
          
Orang-orang pasti akan kebingungan mencari rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56,Menteng Jakarta  Pusat saat ini.

Selain karena bangunan rumahnya sudah tidak ada, alamat Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 juga sudah tidak ada.

Memang masih ada Jalan Pegangsaan Timur, tetapi orang tidak akan bisa menemukan nomor 56 karena ruas jalan di depan rumah Soekarno dulu telah diubah nama menjadi Jalan Proklamasi.

"Banyak yang mencari Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Sekarang sudah tidak ada karena sudah berganti menjadi Jalan Proklamasi Nomor 56," kata Koordinator Taman Proklamasi Rudi Nopiar.

Tanah bekas rumah Soekarno dulu saat ini telah berubah menjadi Taman Proklamasi. Rumah yang ditempati Soekarno, dan menjadi tempat pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan, sudah tidak ada jejaknya.

Soekarno sendiri yang memerintahkan rumah itu dibongkar, suatu hal yang menimbulkan tanda tanya karena Sang Putra Fajar dikenal sebagai seseorang yang sangat menghargai sejarah. Alasan mengapa rumah itu dibongkar pun simpang siur.

Sejumlah sejarawan memberikan jawaban yang berbeda, mulai dari alasan Soekarno tidak ingin rumah itu dianggap mistis, alasan perbedaan politik dengan Sutan Syahrir yang sempat menghuni rumah itu saat menjabat perdana menteri hingga gosip bahwa rumah itu dekat dengan rumah Hartini, istri muda Soekarno.

Di dalam Taman Proklamasi saat ini terdapat tiga situs bersejarah, yaitu Tugu Ibu, Tugu Proklamasi atau Tugu Petir dan Monumen Proklamator Soekarno-Hatta.

Tugu Ibu adalah tugu berbentuk obelisk yang dibangun untuk memperingati satu tahun kemerdekaan Indonesia. Pada salah satu sisi tugu tersebut terdapat lempeng marmer yang bertuliskan "Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia Atas Oesaha Kaoem Wanita Djakarta".

Pada sisi lainnya, terdapat lempeng marmer yang bertuliskan teks proklamasi yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945. Di bawah lempeng marmer tersebut, terdapat lempeng marmer lain yang berisi gambar peta kepulauan Indonesia.

Tugu Proklamasi atau Tugu Petir adalah sebuah tugu berbentuk tabung yang ujungnya terdapat simbol petir sebagaimana logo Perusahaan Listrik Negara (PLN). Tugu tersebut didirikan di lokasi Soekarno berdiri saat membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pada sisi tugu tersebut terdapat lempeng logam bertuliskan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Pada Tanggal 17 Agustus 1945 Djam 10.00 Pagi Oleh Bung Karno dan Bung Hatta".

"Mengapa di puncak tugu ada lambang petir? Karena proklamasi kemerdekaan Indonesia menggelegar bagaikan petir di siang hari," kata Rudi.

Sedangkan Monumen Proklamator Soekarno Hatta terdiri dari dua buah patung Soekarno dan Mohammad Hatta yang saat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di depan mereka, terdapat patung naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik.

"Wajah patung Bung Karno dan Bung Hatta disesuaikan dengan kondisi saat itu. Saat itu mereka berdua berumur 40-an tahun," kata Rudi.

Di belakang patung tersebut, terdapat latar belakang berupa pilar-pilar yang pada bagian tertentu melambangkan angka 17, 8 dan 45.

Edukator dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi Ari Suryanto mengatakan pada awalnya proklamasi direncanakan akan dibacakan di Lapangan Ikatan Atletik Jakarta (Ikada). Namun, karena alasan keamanan, akhirnya dipindahkan ke rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56

"Saat itu tentara dan polisi Jepang masih banyak yang berjaga-jaga dengan senjata lengkap. Di dekat Lapangan Ikada juga terdapat markas Angkatan Darat Jepang. Sangat tidak memungkinkan mendatangkan massa dan mengadakan proklamasi di sana," kata Ari.

Pendapat berbeda disampaikan sejarawan Rusdhy Hoesein. Menurut Rusdhy, seusai perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda. Tidak ada pembicaraan proklamasi akan dibacakan di mana.

"Namun, tampaknya di benak masing-masing orang saat itu, yang terpikirkan adalah Lapangan Ikada. Kepastian lokasi di rumah Bung Karno baru terjadi beberapa saat sebelum proklamasi diselenggarakan," tuturnya.
    
    Demam

Rusdhy mengatakan pagi hari 17 Agustus 1945, Soekarno sedang demam. Dia kemudian meminta anggota Pembela Tanah Air (PETA) Singgih yang saat itu berjaga di rumahnya menyiapkan tiang bendera untuk acara pembacaan proklamasi.

Dalam "Menanggapi Buku 'Sekitar Proklamasi', Setelah Saya Menemui Bung Hatta" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015) yang diterbitkan "Penerbit Buku Kompas", Sudiro menulis bahwa tempat yang ditentukan untuk pembacaan proklamasi adalah Lapangan Ikada, berbeda dengan yang ditulis Hatta bahwa proklamasi akan diselenggarakan di rumah Soekarno.

"Dalam pertemuan saya dengan Bung Hatta, beliau menyatakan bahwa beliau sendiri hanya diberi tahu oleh Bung Karno tentang tempat yang direncanakan untuk mengucapkan proklamasi itu, yaitu rumah Bung Karno. Tidak disebut tempat lain, juga tidak Lapangan Ikada," tulis Sudiro.

Karena informasi lokasi yang simpang siur itu, banyak orang yang akhirnya datang terlambat saat pembacaan proklamasi. Beberapa tokoh, yang terlibat dalam perumusan naskah proklamasi di rumah Maeda pun, bahkan tidak terlihat sama sekali saat pembacaan proklamasi.

         
              Barisan Pelopor
Saat proklamasi akan dibacakan Soekarno-Hatta, Sudiro merupakan salah satu anggota Barisan Pelopor. Ketua Umum Barisan Pelopor adalah Soekarno. Sudiro ditugaskan untuk menjadi pemimpin harian bersama Chalid Rasjidi. Selain itu, juga ada dr Muwardi yang memimpin Barisan Pelopor Daerah Kota Istimewa Jakarta.

Melalui tulisannya, Sudiro menuturkan pada 16 Agustus 1945 sejak pukul 18.00 Barisan Pelopor telah mulai menyampaikan instruksi agar pada 17 Agustus 1945 pagi, sebelum pukul 11.00 waktu Jepang, sudah berada di Lapangan Ikada.

"Seandainya baru jam 3 pagi tanggal 17 Agustus 1945 kami mendapat instruksi tersebut, mustahil kami dapat mengerahkan begitu banyak orang," tulisnya.

Dalam "Saat-Saat Proklamasi Sangat Mendebarkan" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015), Sudiro menuturkan pengerahan massa saat itu dilakukan melalui berbagai cara. Yang bisa dihubungi melalui telepon, diperintahkan melalui telepon. Namun, sebagian besar harus memlalui kurir bersepeda.

Pengerahan-pengerahan massa yang sudah dilakukan sebelumnya, ternyata bagaikan latihan untuk menghadapi peristiwa mahapenting bagi seluruh bangsa Indonesia itu.

Ternyata, saat datang pagi-pagi ke Lapangan Ikada, Sudiro melihat sudah ada banyak tentara Jepang yang berjaga dengan bersenjata lengkap. Dia kemudian segera menghubungi dr Muwardi. Oleh dr Muwardi, Sudiro diminta mengubah instruksi.

"Tidak jadi di Ikada tetapi di Pegangsaan Timur 56. Semua Barisan yang datang dari berbagai jurusan supaya dicegat dan langsung menuju rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur 56," tulisnya.

Sudiro kemudian segera membuat pengumuman-pengumuman tertulis untuk ditempelkan di batang pohon, terutama di sekitar Lapangan Ikada.

Sudiro menggambarkan situasi saat itu sangat mendebarkan. Tentara Jepang yang sudah kalah dari Sekutu, menerima perintah untuk menjaga dan menjamin "status quo". Itu berarti, tentara Jepang sebenarnya harus menghalangi perubahan status Indonesia yang sedang mereka duduki dan menyerahkannya kepada Sekutu.

"Itu sebabnya menurut perhitungan kami, pasti proklamasi kita pada 17 Agustus 1945 akan dihalang-halangi dan dicegah oleh pihak Jepang dengan atau tanpa kekerasan, dengan atau tanpa paksaan," tulisnya.

Ketegangan situasi saat itu juga disampaikan Latief Hendraningrat, anggota PETA yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih setelah pembacaan proklamasi.

Dalam "Latief Hendraningrat, Pengibar Bendera Merah Putih Pada Proklamasi" dalam "Seputar Proklamasi Kemerdekaan" (2015), Latief menuturkan pada 17 Agustus 1945 pagi dia melapor kepada tentara Jepang yang mengawasi pasukannya bahwa dia akan latihan bersama rekan-rekannya di kota.

Tentara Jepang itu tidak tahu bahwa di balik laporan Latief tersebut, mereka bermaksud berjaga-jaga di sekitar pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada saat pembacaan proklamasi dilakukan Latief berjaga di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, bahkan berada di sebelah kanan Soekarno.

"Pikiran saya waktu itu memang tegang. Mata terus tertuju ke jalan besar melihat kemungkinan gangguan," katanya. (bersambung) 
***2*** (D018)





Editor: Agus Priyanto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga