Sabtu, 23 September 2017

Akbidyo berubah menjadi Stikes Akbidyo

id Akbidyo berubah menjadi Stikes Akbidyo
Akbidyo berubah menjadi Stikes Akbidyo
Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Bambang Supriyadi menyerahkan Surat Keputusan perubahan status dari Akbidyo menjadi Stikes Akbidyo kepada perwakilan Stikes Akbidyo. (Istimewa)
Yogyakarta (Antara) - Akademi Kebidanan Yogyakarta (Akbidyo) dengan Program Studi D-3 Kebidanan kini berubah status menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Akbidyo dengan tiga program studi yakni D-3 Kebidanan, D-4 Manajemen Informasi Kesehatan, dan S-1 Farmasi.

"Stikes Akbidyo di bawah Yayasan Bhakti Sosial (YBS) itu mempunyai visi menjadi institusi yang bermutu dan memiliki keunggulan dalam membentuk tenaga kesehatan yang profesional dan berwawasan global," kata Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) YBS Drs Henri Soekirdi MKes di Yogyakarta, Kamis (24/8).

Ia mengatakan, tenaga kesehatan khususnya bidan, perekam medis, dan tenaga kefarmasian yang profesional masih sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, YBS melakukan perubahan status Akbidyo menjadi Stikes Akbidyo dengan tiga program studi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan tersebut.

"Program Studi D-3 Kebidanan telah melakukan penerimaan mahasiswa baru, sedangkan Program Studi D-4 Manajemen Informasi Kesehatan dan Program Studi S-1 Farmasi yang merupakan program studi baru membuka pendaftaran penerimaan mahasiswa baru hingga 5 Oktober 2017," katanya.

Menurut dia, Program Studi D-3 Kebidanan telah menerima mahasiswa baru sebanyak 101 orang, sedangkan Program Studi D-4 Manajemena Informasi Kesehatan dan Program Studi S-1 Farmasi akan menerima mahasiswa baru masing-masing sebanyak 40 orang.

"Mereka akan dididik menjadi tenaga kesehatan yang profesional dan mandiri. Alumni Stikes Akbidyo sebagai tenaga kesehatan yang profesional diharapkan mampu bersaing di tingkat global untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan baik di dalam maupun luar negeri," kata Henri.

Kepala Program Studi D-3 Kebidanan Stikes Akbidyo Istri Bartini MPH mengatakan salah satu tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak pembangunan adalah bidan yang profesional dan mandiri.

Menurut dia, tenaga bidan sangat diperlukan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, sehingga tenaga bidan masih sangat dibutuhkan.

"Rencananya tahun depan kami akan membuka program profesi kebidanan sesuai dengan tuntutan pemerintah. Lulusan program studi kebidanan harus mengikuti program profesi tersebut sebagai syarat untuk bekerja dan membuka praktik mandiri," kata Istri.

Kepala Program Studi S-1 Farmasi Stikes Akbidyo Happy Elda Murdiana MSi Apt mengatakan Indonesia sangat kaya tanaman obat dan masih banyak yang belum dimanfaatkan sebagai obat herbal. Padahal, obat herbal menjadi tren pengobatan saat ini dan masa datang.

"Kami akan mengembangkan obat herbal berbasis tanaman obat yang ada di Indonesia. Kami akan melakukan penelitian dan pengembangan tanaman obat di negeri ini menjadi obat herbal," kata Happy

Kepala Program Studi D-4 Manajemen Informasi Kesehatan Stikes Akbidyo Rawi Miharti MPH mengatakan, banyak lembaga pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, dan balai kesehatan menerapkan sistem dan manajemen rekam medis secara digital dan interkoneksi.

"Kami akan berusaha mencetak tenaga-tenaga ahli manajemen informasi kesehatan yang dapat membuat pendataan secara digital yang komprehensif dan terkoneksi dalam satu jaringan baik lokal maupun nasional," kata Rawi.(B015)


Editor: Agus Priyanto

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga