Sabtu, 23 September 2017

Peningkatan kualitas air jadi PR pelaksanaan STBM

id kualitas air
Peningkatan kualitas air jadi PR pelaksanaan STBM
Ilustrasi (Foto Antara)
Yogyakarta (Antara Jogja) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas air minum dalam pelaksanaan program sanitasi total barbasis masyarakat yang sudah dideklarasikan di seluruh kelurahan dan kecamatan di kota tersebut.

"Ada lima pilar yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) salah satunya air. Dan akses terhadap air minum yang sehat dan berkualitas masih membutuhkan banyak perhatian," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fita Yulia usai Deklarasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, masih ada sekitar 40 persen sumber air yang digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari belum memenuhi syarat kesehatan karena air bersih belum tentu sehat.

"Kami rutin melakukan pengecekan kualitas sumber air yang digunakan warga. Namun, ada saja sumur warga yang tidak memenuhi kualitas air minum yang sehat. Salah satunya disebabkan padatnya permukiman," katanya.

Puskesmas di wilayah, lanjut Fita, rutin memberikan "chlor difuser" untuk membantu meningkatkan kualitas air sumur milik warga, namun banyak warga yang lupa cara pemakaiannya.

"Seharusnya, `chlor difuser` itu diganti setiap 15 hari sekali. Tetapi banyak warga yang sering lupa sehingga tidak pernah menggantinya sehingga kualitas air mereka tidak ada perubahan," katanya.

Selain itu, Fita juga mengimbau warga yang memanfaatkan air sumur untuk minum dapat merebus air tidak hanya sampai mendidih tetapi ditunggu hingga tiga menit kemudian. "Tujuannya agar bakteri atau spora yang terkandung di dalam air minum mati," katanya.

Selain akses terhadap makanan dan minuman yang yang aman, sanitasi total berbasis masyarakat tersebut juga menekankan pada aspek tidak buang air besar sembarangan, mencuci tangan memakai sabun, mengelola sampah rumah tangga dengan benar serta mengelola limbah cair dengan aman.

"Melalui deklarasi ini, kami berharap ada perubahan perilaku masyarakat untuk bisa menerapkan pola hidup bersih dan sehat sesuai aspek yang terkandung dalam kegiatan sanitasi total berbasis masyarakat," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta Edy Muhammad mengatakan, di Kota Yogyakarta sudah tidak ada lagi warga yang buang air besar sembarangan.

"Sekarang, tinggal menjaga perilaku warga saja agar tidak mengulangi hal itu," katanya.

Terkait jamban, di Kota Yogyakarta masih ada sekitar 1,26 persen atau 1.457 jamban dari total 131.516 jamban yang tidak aman karena belum dilengkapi septic tank atau belum tersambung ke instalasi pengolahan air limbah.

Sedangkan untuk air bersih, sudah diakses oleh 98,5 persen namun baru ada 98,66 persen sumur gali yang memenuhi syarat.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang mendeklarasikan sanitasi total berbasis masyarakat menyatakan bahwa kegiatan tersebut ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan warga.

"STBM juga mendukung upaya Yogyakarta menuju Kota Sehat dan memenuhi target 100-0-100 (100 persen sanitasi, nol persen kawasan kumuh dan 100 persen akses air) yang ditetapkan pemerintah pusat," katanya.


(E013)


Editor: Mamiek

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga