Dekan: perubahan iklim sebabkan abrasi

Yogyakarta (ANTARA News) - Perubahan iklim menyebabkan naiknya permukaan air laut sehingga terjadi abrasi, kata Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Suratman.

"Akibat selanjutnya, terjadi bencana dan kerusakan infrastruktur maupun sarana dan prasarana. Bahkan, pulau-pulau terancam tenggelam," katanya di sela konferensi perubahan iklim di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, hal itu harus diantisipasi. Negara-negara di Asia kini memiliki peran menjaga suhu dunia melalui hutan tropis yang dimilikinya, termasuk Indonesia.

"Saat ini dikampanyekan menjaga kelestarian hutan, karena berkurangnya lahan hutan akan mempercepat perubahan iklim. Hutan tropis itu memperlambat perubahan iklim, maka harus dijaga," katanya.

Ia mengatakan untuk menghadapi masalah perubahan iklim diperlukan rencana jangka panjang terkait konservasi vegetatif dengan membuat hutan kota, danau kota, dan tidak segera membuang air ke laut.

Berkaitan dengan hal itu, konferensi tersebut akan membangun jaringan di tingkat ASEAN dalam menghadapi perubahan iklim. Meskipun saat ini dunia terutama Eropa sedang mengalami keguncangan akibat krisis ekonomi, pihaknya optimistis upaya perlambatan perubahan iklim akan tetap berjalan selama komitmen tersebut dipertahankan.

"Upaya itu memang membutuhkan sebuah komitmen dan konsistensi negara yang memiliki kekuatan ekonomo tinggi dalam menjaga kemitraan dengan negara berkembang untuk mendukung agenda dunia," kata Suratman.

Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Danang Sri Hadmoko mengatakan, konferensi itu diharapkan bisa memperkuat kemitraan dalam mengelola isu perubahan iklim.

Menurut dia, UGM menawarkan konsep mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis komunitas. Contohnya, masyarakat Indonesia di pesisir memiliki kemampuan psikologis dalam menghadapi bencana seperti rumah kebanjiran maka beradaptasi dengan meninggikan tanggulnya.

"Selain menawarkan konsep mitigasi berbasis komunitas, UGM juga memiliki kegiatan terkait bencana, yakni membangun ketahanan dan kewaspadaan masyarakat dalam menanggapi isu perubahan iklim melalui kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) tematik," kata Danang.

Konferensi diikuti peserta dari Erasmus University Rotterdam, Belanda, Ca`Foscari University of Venice, Italia, The University of Witwatersrand, Afrika Selatan, Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, dan UGM.

(L.B015*H010)