Sleman  (Antara Jogja) - Sebanyak 76 dusun di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berada di kawasan empat sungai yang berhulu di Gunung Merapi rawan dilanda banjir lahar dingin pada musim hujan saat ini.

"Dalam pemetaan kami terdapat 76 dusun di empat lokasi sekitar sungai yang berhulu di Gunung Merapi yang terancam banjir lahar dingin. Kami minta warga yang tinggal di bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Julisetiono Dwi Wasita, Minggu.

Menurut dia, ke 76 dudun yang rawan dilanda banjir lahar dingin Merapi tersebut terdiri atas 41 dusun yang tersebar di sekitar Sungai Gendol dan Sungai Opak di Kecamatan Cangkringan, Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Kalasan, dan Kecamatan Prambanan.

"Sementara itu, di sekitar aliran Sungai Kuning dan Sungai Boyong terdapat 35 dusun yang terancam, masing-masing di Kecamatan Pakem, Kecamatan Ngaglik, dan Kecamatan Turi," katanya.

Ia mengatakan terkait dengan ancaman banjir lahar dingin tersebut yang sewaktu-waktu dapat terjadi, pihaknya telah melakukan survei dan pemetaan titik-titik tanggul penahan aliran sungai yang rawan jebol.

"Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti banjir lahar dingin akibat hujan, saat ini selalu dilakukan pemantauan melalui tiga kamera CCTV yang terpasang di puncak Gunung Merapi," katanya.

Selain itu, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta.

Sebelumnya, BPPTKG Yogyakarta pada musim hujan saat ini memantau potensi banjir lahar dingin melalui CCTV yang terpasang di sejumlah titik sungai yang aliran airnya berhulu di Gunung Merapi.

Ia mengatakan guna mengetahui adanya potensi banjir lahar, pihaknya menggunakan beberapa parameter pemantauan.

Pertama yakni memantau CCTV yang sudah terpasang pada 18 titik di hulu Gunung Merapi, Kedua, yakni melakukan pemantauan curah hujan yang terjadi di puncak Gunung Merapi melalui sejumlah stasiun pemantau yang juga sudah terpasang.

"Namun, prediksi kami, potensi banjir lahar pada musim hujan tahun ini lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santoso.

Ia mengatakan masyarakat memang tetap harus waspada terhadap potensi banjir lahar yang membawa material erupsi Gunung Merapi pada musim hujan ini.

"Curah hujan di puncak Gunung Merapi saat ini, memang intensitasnya kerapkali tidak terlalu berbeda dengan yang berada di bawah kawasan pegunungan. Pasalnya di puncak lebih sering terjadi badai tanpa disertai dengan hujan," katanya.

Agus mengatakan hal yang harus diwaspadai adalah ketika terjadi hujan secara terus menerus selama 40 menit di kawasan puncak Gunung Merapi.

"Jika terjadi hujan 40 menit, kami memiliki perlatan otomatis yang dapat mengirimkan informasi pesan singkat berupa peringatan dini, peringatan dini itu bisa diteruskan ke lima pos pengamatan yang dimiliki BPPTKG Yogyakarta," katanya.

Ia mengatakan selain curah hujan dan pemantauan CCTV, pihaknya juga menggunakan stasiun seismik untuk melakukan pemantauan banjir lahar. Stasiun seismik merupakan alat pemantauan kegempaan yang terpasang di lereng Gunung Merapi.

"Potensi banjir lahar, kata dia, diprediksi lebih kecil ketimbang tahun sebelumnya. Saat ini, material erupsi 2010 yang masih tersisa di puncak Gunung Merapi diprediksi sekitar 40 juta hingga 50 juta meter kubik. Dari angka itu, sebanyak 25 juta meter kubik di antaranya berada di sisi selatan Merapi. Tetapi karakteristik fisik itu kini sudah berbeda dan sangat kurang mendukung untuk terjadinya lahar hujan. Karena kondisi material erupsi saat ini yang sudah padat sehingga kandungan abu pun cenderung minim," katanya.

Ia mengatakan dengan berkurangnya abu, maka akan mengurangi pula kandungan pelicin yang dapat mempermudah longsoran material akibat guyuran hujan. "Untuk menghancurkan material itu butuh curah hujan yang tinggi," katanya.

(V001)