UNY manfaatkan minyak jelantah untuk pembersih lantai

id uny manfaatkan minyak jelantah

UNY manfaatkan minyak jelantah untuk pembersih lantai

Ilustrasi minyak jelantah (Foto industri19slametgunawan.blog.mercubuana.ac.id)

Jogja (ANTARA Jogja) - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan limbah minyak goreng atau minyak jelantah untuk dijadikan pembersih lantai yang diberi nama Karbol Milan.

"Proses produksi Karbol Milan dibagi menjadi tiga tahapan yakni penjernihan minyak jelantah, pembuatan karbol, dan pengemasan produk," kata Koordinator Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Asri Novianti di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, Karbol Milan diproduksi dalam beberapa varian aroma di antaranya jeruk nipis, apel, bougenvil, dan melati. Karbol Milan dikemas dengan botol plastik bening berukuran 600 mililiter disertai label produk dan petunjuk penggunaan.

"Karbol merupakan produk pembersih lantai yang banyak digunakan oleh masyarakat. Produk pembersih lantai merupakan kebutuhan bagi rumah tangga dan seluruh gedung instansi, lembaga atau pusat perbelanjaan," kata mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA Fakultas MIPA UNY itu.

Ia mengatakan gedung-gedung besar setiap hari membutuhkan karbol pembersih lantai dengan jumlah yang cukup banyak sehingga dibutuhkan anggaran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pembersih lantai. Hal itu disebabkan harga pembersih lantai cukup mahal.

"Namun, produk Karbol Milan yang memanfaatkan minyak jelantah memiliki harga yang lebih ekonomis dibandingkan karbol pada umumnya. Dengan demikian, kebutuhan pembersih lantai dapat tercukupi tanpa perlu menyediakan anggaran yang cukup besar," katanya.

Menurut dia Karbol Milan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan produk karbol lain yang ada. Karbol Milan menggunakan bahan limbah minyak goreng sehingga harganya lebih terjangkau.

Dengan harga yang sangat ekonomis, kata dia, potensi Karbol Milan untuk diterima pasar sangat besar. Dengan kualitas yang tidak mengecewakan tetapi lebih murah dari produk karbol lainnya.

"Saat ini konsumen sangat berhati-hati dalam membeli produk, dan harga merupakan faktor utama yang menjadi pertimbangan," katanya.

Ia mengatakan minyak jelantah biasanya hanya dibuang oleh ibu-ibu rumah tangga dan warung makanan kaki lima yang menjajakan berbagai jenis makanan.

"Padahal, minyak jelantah merupakan jenis limbah yang cukup mencemari lingkungan karena sifatnya yang nonpolar, sehingga tidak bisa larut dalam air yang bersifat polar. Saat dibuang ke perairan minyak jelantah sukar untuk hilang," katanya.

Anggota Tim PKMK UNY yang berhasil memanfaatkan minyak jelantah untuk dijadikan pembersih lantai adalah Hasan Ashari, Nulat Panggayuh Mahardika, dan Wahana Cahya Wibawa.

(B015)

Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar