
Industri pertenunan Santa Maria tingkatkan kesejahteraan Umat

Kulon Progo (ANTARA Jogja) - Industri pertenunan Yayasan Santa Maria di Boro, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mampu menampung tenaga kerja umat Paroki setempat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan umat.
"Sampai saat ini tenaga kerja industri pertenunan Yayasan Santa Maria masih dari kalangan umat Paroki Boro. Umat yang bergabung dalam industri pertenunan ini jumlahnya 49 orang," kata staf Tata Usaha I Yayasan Santa Maria, Antok, Rabu.
Industri pertenunan yang berdiri sejak 1955 itu, menurut dia akhir-akhir ini menghadapi persaingan berat dari industri tenun bermesin canggih.
Apalagi, kata dia, bahan katun sulit diperoleh. Bahan katun satu ball ukuran 20 harganya Rp9 juta, dan ball ukuran 40 seharga Rp12 juta, yang dibeli dari distributor di Solo, Jawa Tengah.
"Kami tidak dapat melayani pesanan yang terburu-buru. Karena jumlah tenaga kerja terbatas, dan bahan baku juga menjadi kendala. Tetapi kami tetap percaya bahwa masih banyak orang yang mencari produk tenun katun alat tenun bukan mesin (ATBM)," kata Antok.
Ia mengatakan produksi tenun Yayasan Santa Maria di antaranya serbet dapur, piring, kain pel, wastafel, handuk, selimut, dan sarung.
Omzet penjualan setiap bulannya minimal Rp16 juta, tergantung jumlah pesanan.
"Produksi tenun kami tidak laku di pasaran, karena harganya tergolong mahal, dan bahan bakunya katun. Oleh karena itu, konsumen kami adalah jaringan yayasan Katolik dan Kristen," kata Antok.
Ia mengatakan produk industri tenunnya banyak dipesan rumah sakit terbesar dan ternama di seluruh Indonesia. Terakhir, pesanan datang dari rumah sakit di Mimika, Papua.
"Kami menjualnya ke rumah sakit dan sekolah-sekolah milik yayasan Katolik dan Kristen di seluruh Indonesia," kata dia.
Upah tenaga kerja di industri tenun Yayasan Santa Maria di Kulon Progo ini, melebihi upah minimum provinsi Rp810.000 per bulan.
Meski demikian, kata dia, kendala utama dalam industri tenun ini yakni sering dan banyak karyawan minta izin tidak masuk kerja karena alasan ada keperluan keluarga.
"Kami memberikan toleransi kepada mereka. Upah yang mereka dapat juga tergantung pada tingkat kerajinan yang bersangkutan," katanya.
(KR-STR)
Pewarta :
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
