"Angin Rumput Savana " menutup Pekan Budaya Sumba

id angin rumput savana menutup

Film "Angin Rumput Savana" (Foto hiburan.plasa.msn.com)

Gianyar (ANTARA Jogja) - Bentara Budaya Bali memutar film "Angin Rumput Savana" yang berlatar kehidupan masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur, sebagai rangkaian kegiatan menutup Pekan Budaya Sumba di Gianyar, Jumat malam.


"Film ini merupakan karya Garin Nugroho, salah satu sutradara terkemuka di Tanah Air," kata Juwitta Katrina Lasut, staf Bentara Budaya Bali di sela pemutaran film tersebut.


Film Angin Rumput Savana mengisahkan tentang Wulang, seorang gadis Sumba yang memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya setelah sekian waktu mengenyam pendidikan kedokteran di Jakarta.


Padang savana dengan rerumputan dan angin yang berhembus mengingatkannya pada masa kecilnya di Sumba. Akan tetapi, kontrasnya perbedaan kultur dan gaya hidup yang ia rasakan ketika hidup di Jawa dengan di Sumba membuat Wulang harus memutuskan pilihan berat untuk tetap tinggal di Sumba atau kembali ke Jawa.


Film ini dibintangi oleh beberapa artis berkarakter seperti Maudy Koesnaedi, Unique Priscilla, dan Renny Djayusman.


Film yang dirilis pada tahun 1997 itu, pernah meraih penghargaan sebagai film televisi terbaik Festival Film Singapura ke-10, serta nominasi di ajang Piala Vidia FSI 1997.


"Garin Nugroho juga kita kenal sebagai sineas Indonesia yang cemerlang dan produktif, serta sering pula mengangkat tema-tema etnis dan budaya dalam karya filmnya," kata Juwitta.


Ia menambahkan, film-film karya Garin telah banyak meraih penghargaan internasional, di antaranya FIPRESCI dari Festival Film Internasional Berlin 1996 untuk film Bulan Tertusuk Ilalang,  Silver Leopard Video di Festival Film Internasional Locarno 2000 untuk film Puisi Tak Terkuburkan serta Special Jury Prize di Festival Film Internasional Tokyo 1998 untuk film Daun di Atas Bantal dan sebagainya.


Pekan Budaya Sumba berlangsung dari 24 Agustus hingga 7 September 2012 di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar.
   
(KR-LHS)


Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar