
Wamentan apresiasi gerakan tanam serempak 1.000 hektare
Sabtu, 9 Maret 2013 14:22 WIB

Cilacap (Antara Jogja) - Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan memberikan apresiasi terhadap Gerakan Tanam Serempak 1.000 Hektare yang dicanangkan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo di Kabupaten Cilacap pada 18 November 2012.
"Hari ini, saya sangat berbahagia, paling tidak bisa menyaksikan, bahkan ikut memanen padi yang dilakukan bersama-sama Pak Gubernur dan Pak Bupati (Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji, red.). Harus jujur kita mengatakan bahwa ini salah satu program penanaman padi yang sangat berhasil," katanya di Cilacap, Sabtu.
Wamentan mengatakan hal itu saat memberi sambutan dalam dialog dengan petani yang dipandu Gubernur Jateng usai memanen padi hasil Gerakan Tanam Serempak 1.000 Hektare di Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten, Cilacap.
Dia mengaku bahwa dirinya bukan tipikal orang yang mudah percaya kalau tidak melakukan investigasi sendiri.
"Tadi saya diam-diam melihat butir-butirnya (gabah, red.) berisi semua," katanya.
Dia setuju jika produksi padi hasil gerakan tanam serempak itu dikatakan bagus meskipun masih ada beberapa butiran padinya yang terlihat kusam.
Oleh karena itu, Wamentan menyarankan kepada perwakilan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang mendampingi petani Desa Bojong untuk mempelajari produksi padi yang butirannya terlihat bening atau cerah.
"Saran saya, Pak Joko Handoyo (perwakilan BPPT, red.), nanti yang produksinya bening-bening itu coba dipelajari sebagai praktik yang bagus. Jadi, nanti petani atau kelompok tani lain yang masih butek-butek itu, bisa mengambil contoh atau pengalaman yang sebenar-benarnya dari yang bening-bening tadi," katanya.
Dengan demikian, kata dia, petani atau kelompok tani lainnya bisa belajar dari pengalaman.
Terkait dengan keberhasilan dalam program Gerakan Tanam Serempak 1.000 Hektare ini, dia mengatakan bahwa pihaknya akan mengusulkan Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten, sebagai kawasan percontohan dalam hal manajemen pertanian.
"Ini (Desa Bojong, red.) bersama Kabupaten Grobogan (Jateng) akan dijadikan percontohan manajemen karena modalnya sudah ada, gerakan tanam serempak, panen serempak. Nanti akan dikemas dalam manajemen yang sama, 'farming'. Jadi, nantinya jika perlu bibit bisa bersama-sama, panen bersama-sama sehingga dalam penanganan persoalan seperti hama dapat dilakukan bersama-sama," katanya.
Bahkan, dia mengaku mendengar jika seluruh kelompok tani di wilayah ini memiliki pemikiran yang sama dalam memajukan pertanian.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan terima kasih kepada Panglima Daerah Militer IV/Diponegoro beserta jajaran yang turut mendukung program Gerakan Tanam Serempak 1.000 Hektare ini.
Saat ditemui wartawan, Wamentan mengatakan bahwa Jateng memiliki kontribusi luar biasa dalam memenuhi target-target produksi pertanian secara nasional.
"Ini konsisten dilakukan dalam lima tahun terakhir. Saya atas nama Kementerian Pertanian menyampaikan terima kasih kepada Jawa Tengah," katanya.
Bahkan, kata dia, Jateng memiliki produksi padi paling tinggi karena hampir mendekati 9 persen, sedangkan nasional hanya 5 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jateng, angka sementara produksi padi di provinsi ini mencapai 10,233 juta ton atau lebih tinggi 8,95 persen jika dibandingkan dengan angka tetap 2011 yang sebesar 9,392 juta ton.
Terkait dengan keberadaan Cilacap, Wamentan mengatakan bahwa kabupaten ini memiliki kedaulatan lahan tertinggi dan paling luas di Jateng (sekitar 63.000 hektare lebih, red.).
"Jadi, kita sayang sekali dengan Cilacap karena turut berkontribusi dalam produksi beras," katanya.
Disinggung target produksi beras nasional, dia mengatakan bahwa pemerintah pada tahun 2013 menargetkan produksi gabah kering giling secara nasional sebesar 72,06 juta ton atau setara 42 juta ton hingga 43 juta ton beras.
Sementara itu, Gubernur Jateng Bibit Waluyo mengatakan bahwa tekad panen serentak 1.000 hektare ternyata hasilnya luar biasa.
"Ini jenis padi inpari 11, hasilnya luar biasa. Tanaman padi inpari ternyata cocok di daerah ini," katanya.
Oleh karena itu, dia mengajak petani setempat untuk menanam padi inpari guna meningkatkan kesejahteraan.
Berdasarkan hasil penghitungan, kata dia, tanaman padi inpari ini dapat menghasilkan 10 ton hingga 11 ton gabah kering panen per hektare.
"Ini luar biasa, padinya bagus-bagus. Jadi, membanggakan," katanya.
Menurut dia, Jateng saat ini telah bisa swasembada beras sebanyak 3,1 juta ton pada akhir tahun 2012.
"Nanti tahun 2013 mudah-mudahan naik, indikasinya naik," katanya.
Terkait dengan adanya butiran beras inpari 10 dan inpari 11 yang kusam, dia mengatakan bahwa hal itu sebenarnya tidak harus dipermasalahkan karena yang terpenting adalah hasil panennya banyak.
Kendati demikian, dia mengakui bahwa butiran beras yang kusam atau butek tersebut akan berpengaruh terhadap penjualan.
Oleh karena itu, dia mengharapkan adanya upaya agar tidak ada butiran beras yang terlihat kusam atau butek.
Secara terpisah, petugas dari BPPT Joko Handoyo mengakui bahwa adanya butiran beras inpari 10 dan inpari 11 yang terlihat kusam setelah gabahnya digiling.
"Namun, tidak semuanya terlihat kusam karena ada yang bening. Bahkan, di tempat lain juga banyak yang bening-bening," katanya.
Menurut dia, adanya butiran beras yang kusam tersebut kemungkinan disebabkan faktor lingkungan, termasuk masalah pemupukan.
(KR-SMT)
Pewarta : Oleh Sumarwoto
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
