
BNPB imbau masyarakat waspadai siklus letusan Merapi

Yogyakarta (Antara Jogja) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Ma`arif mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi untuk mewaspadai siklus letusan gunung ini yang terjadi setiap empat tahun sekali.
"Walaupun kita tidak bisa memastikan skala letusannya tapi sesuai siklus yang terjadi empat tahun sekali, harus diwaspadai oleh masyarakat setempat," kata Syamsul di sela-sela Simposium "Indonesia tentang Pengurangan dan Ketahanan Risiko Bencana" di Yogyakarta, Kamis.
Berkaitan dengan siklus tersebut, Syamsul juga meminta masyarakat yang masih bertahan tinggal di sekitar Gunung Merapi untuk bersedia direlokasi.
"Kalau sesuai siklus empat tahunannya kan berarti akan terjadi setahun lagi. Berarti kesempatan masyarakat untuk mau direlokasi tinggal setahun lagi,"katanya.
Menurut Syamsul pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah berusaha penuh meminta masyarakat yang tinggal di wilayah berisiko bencana di sekitar Merapi untuk bersedia direlokasi di hunian tetap (Huntap) yang telah disediakan pemerintah.
Namun hingga saat ini, sesuai data terakhir BNPB, jumlah keluarga yang belum bersedia direlokasi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ada 650 kepala keluarga (KK).
"Untuk Jawa Tengah khususnya Klaten malah hampir seluruhnya belum mau direlokasi. Padahal jumlah warga di sana terus berkembang,"katanya.
Ia mengakui bahwa masyarakat di sekitar Gunung Merapi memiliki pengalaman tinggal yang lama di daerah setempat. Sehingga mengklaim memahami kondisi atau batasan bahaya yang akan terjadi di sekitar Merapi.
Kendati demikian, ia tetap meminta masyarakat untuk mengikuti imbauan pihak yang berkompeten secara ilmiah terkait fenomena letusan tersebut. Sebab situasi alam saat ini semakin sulit untuk diprediksi dengan pengamatan.
"Kami memang mengakui masyarakat yang bertahan di Merapi bukan tidak tahu tapi sudah pintar tentang kondisi di sana, namun kalau diingatkan sebentar ya setidaknya mau,"katanya.
Sebab, menurut Syamsul setelah masyarakat bersedia direlokasi, mereka tetap dapat mengunjungi hunian lama.
"Sesekali saat kondisi tidak rawan mereka tetap bisa mengunjungi rumahnya di atas, untuk mencari pakan ternak atau yang lainnya,"katanya.
(KR-LQH)
Pewarta : Oleh Luqman Hakim
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
