Logo Header Antaranews Jogja

KAI perbaiki sistem pertiketan elektronik KRL Jabodetabek

Minggu, 7 Juli 2013 20:42 WIB
Image Print
Antre pembeli tiket di stasiun (Foto ANTARA/Dok) (antara)

Jakarta (Antara Jogja) - PT Kereta Api Indonesia akan memperbaiki sistem "e-ticketing" KRL Jabodetabek terutama setelah kehilangan sebanyak 700 ribu kartu tiket elektronik yang alokasi pengadaannya menghabiskan hampir Rp3 miliar.

"Kami telah kehilangan 700 ribu tiket yang pengadaannya bisa hampir Rp3 miliar," kata Direktur Utama KAI Ignasius Jonan di Jakarta, Minggu.

Menurut Ignasius Jonan, persoalan dari permasalahan hilangnya ratusan ribu tiket elektronik itu bukan kepada jumlah anggarannya tetapi karena jangka waktu pengadaannya bisa sampai beberapa bulan.

Pada saat ini, ujar dia, KAI tinggal memiliki sekitar 400 ribu tiket elektronik "Single Trip" sehingga bila tiket ini juga habis, para pengguna jasa layanan KRL mesti membeli kartu "Multi Trip" yang lebih mahal.

Sejak Senin (24/6), KAI telah memasarkan kartu "E-Ticketing" Berlangganan atau "Multi Trip" yang menggunakan sistem potong saldo, yang bisa dimiliki dengan membayar kartu perdana Rp20.000 ditambah saldo perdana Rp13.000.

Selanjutnya, untuk pengisian ulang saldo pengguna kartu Berlangganan Multi Trip dapat melakukan Isi Ulang atau "Top Up" pada loket Stasiun di Jabodetabek dengan pilihan nominal mulai dari Rp5.000 atau Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, Rp100.000, Rp200.000.

Saldo pada kartu Multi Trip dapat diisi sampai dengan saldo maksimal sebesar Rp1.000.000. Selain itu, kartu multi trip tidak memiliki masa kedaluwarsa, sehingga pengguna tidak perlu khawatir saldo yang ada pada kartu akan hangus dalam jangka waktu tertentu jika tidak digunakan.

Dirut KAI mengemukakan, pihaknya tidak menyalahkan penumpang tetapi lebih disebabkan petugas yang kurang tertib dalam mengumpulkan kartu tersebut.

Untuk itu, Jonan menyatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan ketertiban serta menambah jumlah petugas agar tidak terjadi lagi lebih banyak kehilangan.

Selain itu, pihak KAI juga akan berupaya lebih keras dalam menutup semua "jalan tikus" untuk akses keluar-masuk ke dalam stasiun. "Kami berupaya agar dalam dua bulan selesai," katanya.

Sebagaimana diberitakan, penerapan tarif progresif KRL sejak 1 Juli 2013 dengan menyelaraskan pada jarak antarstasiun diapresiasi oleh para pengguna KRL, tetapi masih terdapat banyak keluhan terkait pelayanan yang seharusnya lebih diperhatikan.

"Saya setuju karena memang seharusnya untuk tarif seperti itu. Tapi saya harap fasilitas dan tambahan gerbong juga diperhatikan," kata seorang penumpang dari Bogor, Gesha Natasha di Jakarta, Senin (1/7).

Gesha berpendapat, banyak penumpang yang sebenarnya telah sadar untuk beralih ke transportasi umum seperti kereta, tetapi tanpa adanya penambahan gerbong, maka para penumpang terpaksa berhimpitan.

Sementara itu, pengguna KRL lainnya, Fransiska Ninditya menyayangkan bahwa pemberlakuan tarif progresif tidak dibarengi dengan perbaikan pelayanan seperti arus masuk penumpang ke dalam stasiun masih lamban dibanding saat petugas masih menggunakan tiket kertas yang disobek.

(M040)



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026