KBRI Windhoek Namibia gelar Pekan Film Indonesia

id kbri windhoek namibia

Film "Habibie dan Ainun" (Foto facebook.com)

London (Antara Jogja) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Windhoek bekerja sama dengan "Franco-Namibian Cultural Center" (FNCC) Pekan Film Indonesia dengan memutar film dan pameran foto sejarah perfilman Indonesia. 
   
"Lima Film Indonesia berkualitas yang diputar di FNCC Cinema tersebut adalah 'Habibie dan Ainun', 'Ada Apa Dengan Cinta?', 'Nagabonar Jadi 2', 'The Raid' dan 'Cinta Tapi Beda'," kata Pelaksana Fungsi Ekonomi dan Pensosbud, Counsellor, KBRI Namibia, Pramudya Sulaksono, kepada Antara London, Senin.


Pemutaran film Indonesia dan pameran foto sejarah perfilman Indonesia itu diadakan di Windhoek, dari 22 hingga 26 Juli lalu.


Film-film yang diputar itu telah mendapat sambutan positif dan antusias dari masyarakat di Kota Windhoek, yang nampak memadati gedung bioskop selama diputarnya film-film tersebut setiap harinya.


Pada kesempatan yang sama juga dipamerkan foto mengenai sejarah perfilman Indonesia dari berbagai periode, mulai Hindia Belanda (1900), masa Revolusi (1950), Orde Baru (1970-1980), Reformasi  (1998) hingga kini.


Menurut Pramudya Sulaksono, Pekan Film Indonesian diselenggarakan dalam rangka peringatan ke-22 tahun hubungan diplomatik antara RI dengan Republik Namibia.


Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan citra positif Indonesia di mata masyarakat Namibia agar mereka dapat lebih mengenal budaya dan masyarakat Indonesia.


Pada pembukaan acara itu dimeriahkan tari Merak Subal yang dibawakan oleh Ika Damayanti dengan memperoleh apresiasi hangat dari para undangan. PAda saat itu juga dihidangankan jajanan khas Indonesia yang disajikan oleh Dharma Wanita Persatuan KBRI Windhoek.


Sebagai tayangan perdana diputar film "Habibie dan Ainun". Pembukaan dihadiri kalangan korps diplomatik, para undangan dan media massa.


Dalam sambutannya Dubes Agustinus Sumartono menyampaikan melalui kegiatan ini diharapkan dapat lebih mendekatkan masyarakat dan meningkatkan hubungan kedua negara.


Dubes menyampaikan sejarah perfilman di Indonesia, sejak penjajahan Belanda hingga menjadi sebuah industri yang menyediakan lapangan pekerjaan dan industri kreatif bagi masyarakat Indonesia.


Beragamnya jenis film yang diputar selama kegiatan itu, seperti drama, komedi, aksi laga menunjukkan bahwa film Indonesia sudah mampu go international, sebagaimana film The Raid yang telah diputar bioskop di mancanegara.


KBRI Windhoek menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI), Miles Films, PT. Merantau Film dan PT. Tripar Multivision Plus atas dukungan dan kerja samanya sehingga acara Indonesian Film Week ini dapat terselenggara dengan sukses.


(H-ZG)

Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar