Cak Nun: pemimpin perlu jaga nilai kepantasan

id budayawan cak nun

emha ainun najib (foto Antara)

Jakarta (Antara Jogja) - Budayawan Emha Ainun Najib yang akrab disapa Cak Nun mengatakan pemimpin sekarang dan juga calon pemimpin pada 2014 sudah sepantasnya memiliki kesadaran untuk menjaga nilai-nilai kepantasan dan estetika.

"Berpikirlah satu untuk bangsa, jangan memiliki jabatan untuk kepentingan-kepentingan lain," kata Cak Nun dalam sesi kuliah di Rumah Perhimpunan Pergerakan Indonesia di Jakarta, Jumat.

Dalam sesi kuliah yang dihadiri sekitar ratusan orang dari berbagai kalangan masyarakat itu, Cak Nun mengatakan, selain peraturan-peraturan dalam konstitusi, seorang pemimpin akan dikelilingi nilai-nilai kepantasan dan kepatutan dalam dirinya.

Menurut Cak Nun, sikap seorang pemimpin harus kokoh pada posisinya yang mengayomi dan melayani masyarakat, dan tidak boleh terpecah dengan kepentingan jabatan-jabatan lainnya di luar tatanan pemerintahan.

Hal itu menjadi kriteria yang menjadi basis kredibilitas seorang pemimpin. "Itu menjadi kriteria kualifikasi pemimpin," ujarnya.

"Hidup itu bukan cuma benar atau salah, tapi juga pantas atau tidak pantas, dan itu bergerak dalam ranah estetika," ujar Cak Nun menambahkan.

Cak Nun menganalogikan bahwa pemimpin harus menjadi "pawang" yang melindungi setiap jajaran bawahannya dan masyarakat dari gejala-gejala sikap disintegritas.

Di sisi lain, saat sedang bekerja, Cak Nun menilai, pemimpin perlu untuk melupakan kepentingan atau nafsu atas nama pribadinya, guna mengedepankan kepentingan rakyat di atas segalanya.

"Bahkan pemimpin harus rela menjadi 'tumbal' dalam menyelesaikan masalah," ujarnya.

Jika pemimpin tidak mampu berbuat seperti itu, dia akan menjadi catatan sejarah yang dikenang secara buruk.

"Keharusan pemimpin untuk memperbaiki masyarakat. Jika tidak,  dia pasti hancur, hancur secara sejarah dan hancur estetika," ujar dia.  (I029)

Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar