Logo Header Antaranews Jogja

Bupati minta warga KRB pertimbangkan relokasi

Senin, 18 November 2013 16:53 WIB
Image Print
Bupati Sleman Sri Purnomo (Foto antaranews.com)

Sleman (Antara Jogja) - Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Purnomo meminta warga yang masih tinggal di kawasan rawan bencana III Gunung Merapi mempertimbangkan relokasi ke tempat yang aman.

"Saat ini masih ada ratusan kepala keluarga (KK) dan sekitar 1.500 warga yang menghuni di daerah bahaya," kata Sri Purnomo saat mengunjungi warga Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Cangkringan pascahembusan Gunung Merapi, Senin.

Menurut dia, kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi sangat berbahaya untuk hunian karena jaraknya hanya sekitar lima kilometer dari puncak Gunung Merapi.

"Ada aturan dan undang-undang tentang bencana alam yang jalas melarang KRB III dilarang untuk hunian tetap," katanya.

Sri Purnomo juga mengingatkan warga Dusun Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul dan Srunen yang masih bertahan belum mau pindah ke tempat yang aman, tentang karekteristik Gunung Merapi yang telah berubah.

"Kalau sebelum letusan 2010, sebelum meletus ditandai dengan aktivitas yang bisa dideteksi, namun saat ini aktivitas Gunung Merapi tidak dapat dideteksi sebelumnya, langsung terjadi aktivitas seperti pada pertengahan puasa lalu dan tadi pagi yang abu vulkaniknya sampai ke Solo, Jawa Tengah," katanya.

Ia meminta warga selalu waspada dan siap mengungsi kalau memang kondisi Gunung Merapi meningkat aktivitasnya.

"Diharapkan warga untuk memikirkan tempat yang aman untuk dihuni seperti warga lain yang telah pindah ke tempat aman dalam hunian tetap (huntap) yang disediakan pemerintah untuk menghindari risiko bahaya akibat letusan Gunung Merapi. Wilayah ini telah ditetapkan sebagai daerah bahaya dan dilarang untuk hunian meningat jaraknya hanya sekitar empat kilometer dari Gunung Merapi," katanya.

Warga menyambut baik kedatangan Bupati dan menyadari berada dalam area bahaya sehingga warga suatu saat akan pindah ke tempat aman hanya butuh waktu untuk pindah.

(V001)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026