Polres Bantul: penganiayaan bermotif ekonomi

id pemalakan

Bantul (Antara Jogja) - Kepolisian Resor Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyimpulkan bahwa kasus penganiayaan dan pembacokan hingga menewaskan Slamet Panujiyono, warga Medelen, Desa Sumberagung, pada Sabtu (30/11) bermotif ekonomi.

"Berdasarkan informasi yang kami himpun, pelaku ini memang bermasalah dalam ekonomi karena pekerjaan yang tidak jelas, sehingga yang bersangkutan memalak hingga penganiayaan," kata Kepala Satuan Reserse Kriminimal (Kasat Reskrim) Polres Bantul AKP M Kasim Akbar di Bantul, Senin.

Slamet Panujiyono alias Didit dianiaya oleh empat orang hingga tewas di Jalan Parangtritis KM 14,5 Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Bantul, pada Sabtu (30/11), karena tidak memberikan rokok dan uang saat keempat pelaku memalaknya.

Namun demikian, jajarannya berhasil mengungkap dan menangkap keempat pelaku penganiayaan tersebut pada Minggu (1/12), keempat pelaku yakni berinisial IS (24) warga Gerselo Patalan, DP (30), warga Cangapan Patalan, GS (20), warga Ngibikan Canden, dan WP (28), warga Gerselo, Patalan, Jetis.

Menurut dia, selain karena tuntutan ekonomi, keempat pelaku memang mempunyai latar belakang yang suka membuat onar sehingga seringkali meresahkan masyarakat khususnya warga Bantul dan sekitarnya.

"Saat ini keempat pelaku telah ditahan di Mapolres Bantul, mereka kami kenakan dengan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara," katanya.

Atas kejadian ini, kata dia diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk selalu waspada setiap harinya, apalagi kasus pemalakan hingga penganiayaan telah terjadi selama dua kali dalam sepekan terakhir.

"Sejak sekitar seminggu lebih saya di sini (menjabat Kasat Reskrim Polres Bantul) sudah ada dua kejadian yang sama, yakni TKP di daerah Sedayu kemudian di Patalan Jalan Parangtritis," katanya.
(KR-HRI)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar