Jhoni pameran patung "inklinasi" di Yogyakarta

id jhoni pameran patung

Jhoni Waldi (Foto facebook)

Jogja (Antara Jogja) - Pematung kayu Jhoni Waldi menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta dengan menampilkan karya bertajuk "inklinasi" atau perlawanan.

Pemeran 16 karya patung Jhoni Waldi yang dibuka pada Selasa malam itu akan berlangsung hingga 24 Desember 2013.

Kurator pameran, Mikke Susanto dalam pembukaan acara tersebut mengatakan tema "inklinasi" dipilih untuk mewakili karya Jhoni Waldi yang secara umum menggambarkan perlawanan terhadap realitas.

"`Inklinasi` adalah kata yang kerap dipakai dalam bidang geografi. Menunjukkan penyimpangan sumbu bumi terhadap bidang datar,"katanya.

Menurut dia, karya Johni Waldi keseluruhan disajikan dengan mengambil bentuk "gesture" (bahasa tubuh) manusia.

Hal itu dimaksudkan untuk mewakili pesan atau protes masyarakat yang tidak dapat diungkapkan secara tekstual.

Menurut dia, Jhoni merupakan seniman patung yang konsisten mempertahankan karakter karyanya yang aneh dan unik. karya patung selalu dilapisi dengan logam dengan teknik yang rumit.

"Saya kira ini harus diapresiasi secara khusus karena karakter karyanya yang unik dan memiliki kekhasan tersendiri,"kata dia.

Hal itu, kata dia, dapat dinikmati dalam karya berjudul "hilang akal sehat". Karya berujud lima potong kepala yang diinjak oleh kaki itu, menurut dia, menggambarkan keadaan manusia yang tidak memiliki akal sehat karena kompleksitas hidup.

"Dalam karya itu muka-muka itu tak tergambar lagi apakah tengah bergembira atau bersedih, suka duka, bugar atau lelah tanpa ekspresi karena kompleksitas yang menekan,"kata dia.

Sementara itu, Jhoni Waldi mengaku melakukan proses pematungan sesuai dengan alur perasaan. Ia justru mengaku tidak pernah merumuskan aliran tertentu dalam berkarya.

"Semua ngalir saja. Ini hanya untuk mewakili keresahan masyarakat yang coba saya rasakan melalui bahasa seni bukan teks,"kata alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Sementara itu, penikmat seni, Sadar Subagyo mengatakan karya seni Jhoni Waldi harus diapresiasi. Karya Jhoni, menurut dia, potensial untuk .melawan budaya birokrasi yang cenderung koruptif.

"Karya-karya budaya ini wajib kita apresiasi sebagai wujud budaya untuk melawan budaya lain yang negatif. Korupsi termasuk budaya maka harus dilawan dengan budaya juga,"katanya yang juga anggota Komisi XI DPR RI ini.

Lebih dari itu, menurut Sadar, seharusnya karya Jhoni serta karya seniman lainnya di Indonesia memiliki hak cipta yang terdaftar.

"Apabila tidak demikian, karya-karya berkualitas itu akan dengan mudah difoto lalu ditiru," katanya.

(KR-LQH)
Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar