Logo Header Antaranews Jogja

Warga NU Yogyakarta saksikan film "Sang Kiai"

Senin, 6 Januari 2014 18:55 WIB
Image Print
Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa Daerah Istimewa Yogyakarta Agus Sulistiyono mengajak kalangan Nahdlatul Ulama dan jajaran pengurus partai menyaksikan film "Sang Kiai". (Foto Mamiek/Antara)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Ratusan warga Nahdlatul Ulama dan pengurus partai politik Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta menyaksikan film monumental "Sang Kiai" di sebuah gedung bioskop setempat, Senin.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PKB DIY Agus Sulistiyono meminta warga Nahdlatul Ulama (NU), jajaran pengurus dan kader PKB untuk mengambil hikmah dari film "Sang Kiai".

"Film ini mengisahkan bagaimana perjuangan para ulama terdahulu dalam memperjuangkan dan mempertahankan NKRI," kata Agus Sulistiyono yang merupakan anggota Komisi VII DPR RI.

Dalam sinopsis film tersebut, lanjut Agus, awal dari perlawanan melawan penjajahan Jepang itu diproklamatori oleh para santri dari beberapa pesantren pada 1942 di Jawa Timur.

Beberapa kiai ditangkap karena dianggap telah melakukan perlawanan terhadap Jepang, tidak juga luput penangkapan terhadap KH Hasyim Asy`ari sebagai pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng.

Penangkapan KH Hasyim Asy`ari membuat kericuhan di Pondok Pesantren Tebu Ireng dan menimbulkan reaksi keras dari para putra beliau, yakni KH Wahid Hasyim (ayanda mantan Presiden Abdurrahman Wahid/Gus Dur), KH Karim Hasyim dan KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).

Tidak hanya itu, kemarahan juga terlihat pada para santri seperti Baidlowi, Kang Solichin, orang kepercayaan, serta tiga santri muda yakni Harun, Kamid dan Abdi.

"Penangkapan yang membuat panas itu membuat situasi pesantren kacau balau. Berbagai penyerangan mengatasnamakan jihad. Kecaman, ancaman, kerusuhan, terjadi demi kebebasan rakyat Indonesia dari kekejaman penjajah Jepang yang sudah semakin semena-mena terhadap bangsa rakyat Indonesia," katanya.

Ia menilai hal itu hanya sepenggal dari kisah sinopsis film "Sang Kiai" yang menggambarkan perjuangan para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan menjadi inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Caleg daerah pemilihan DIY nomor urut I ini mengatakan dirinya memberikan apresiasi terhadap film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2013 itu.

Agar perjuangan para santri dan kiai tetap menjadi inspirasi masyarakat, dirinya berinisiatif untuk memutar film "Sang Kiai" di Dusun Daraman Srimartani Piyungan, Bantul dan akan dilanjutkan ke beberapa tempat.

"Hal ini dilakukan untuk memberikan informasi akurat kepada para generasi Nahdlatul Ulama (NU) dan menumbuhkan semangat kebangsaan serta meningkatkan persatuan dan kesatuan umat Islam untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Tanah Air, NKRI adalah harga mati yang harus selalu diperjuangkan," kata dia.

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026