Logo Header Antaranews Jogja

Realisasi penyerapan pupuk NPK capai 98 persen

Rabu, 8 Januari 2014 22:18 WIB
Image Print
Pupuk bersubsidi (antaranews.com)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Realisasi penyerapan pupuk NPK di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencapai 5.669,3 ton atau 98 persen dari alokasi 5.785 ton pada 2013.

Kabid Tanaman Pangan Dispertan Kulon Progo Tri Hidayatun di Kulon Progo, Rabu, mengatakan rata-rata penyerapan pupuk mencapai 90 persen kecuali pupuk NPK yang mencapai 98 persen.

"Selama 2013, alokasi pupuk di Kulon Progo mengalami perubahan hingga tiga kali. Hal ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pertanian, peraturan gubernur dan peraturan bupati. Kebutuhan pupuk disesuaikan dengan realita dilapangan," kata Tri.

Ia mengatakan alokasi pupuk urea sebanyak 5.600 ton, SP36 sebanyak 1.180 ton, Za sebanyak 3.210 ton, NPK sebanyak 5.785 ton dan organik sebanyak 2.915 ton.

"Alokasi pupuk seefesien mungkin disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Sebab, pada 2012, terjadi kelebihan alokasi pupuk," kata dia.

Staf data Dispertan Kulon Progo Retno mengatakan pupuk yang mengandung zat tunggal alokasinya dikurangi, sementara pupuk yang mengandung zat majemuk diperbanyak.

"Penyerapan pupuk urea terus mengalami penurunan dan anggaran dari pemerintah pusat juga turun, akibatnya alokasi urea setiap tahunnya terus menurun. Secara nasional, alokasi subsidi urea mengalami penurunan," kata Retno.

Dia mengatakan penurunan alokasi dan permintaan urea berbanding terbalik dengan permintaan pupuk phonska dan petrokimia yang mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Phonska dan Petrokimia mengandung banyak zat yang terkandung didalamnya.

Untuk efisiensi biaya pertanian, Dispertan Kulon Progo mengimbau kepada petani menggunakan pupuk yang sifatnya majemuk.

Meski ada penurunan pupuk bersubsidi, menurut dia, tidak berpengaruh terhadap hasil produksi padi di Kulon Progo. Karena selain menggunakan pupuk kimia, petani juga menggunakan pupuk organik secara berimbang.

"Penggunaan pupuk organik justru meningkatkan produktivitas hasil panen padi. Rata-rata produksi padi di Kulon Progo mencapai 6,5 ton per hektare gabah kering panen. Penurunan subsidi urea untuk petani Kulon Progo tidak berdampak dengan produktivitas pertanian," kata dia.

Dispertan Kulon Progo, kata dia melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap kelompok tani membuat Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO). Saat ini, jumlah UPO di Kulon Progo mencapai 11 unit yang tersebar di Kecamatan Lendah, Galur, Sentolo, Nanggulan dan Kalibawang.

"Untuk mendukung pengembangan UPO, Dispertan memberikan bantuan berupa hewan ternak, peralatan dan daya dukung lain," kata dia.

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026