Akademisi: nasionalisme hanya terpaku pada teori

id akademisi: nasionalisme hanya

Akademisi: nasionalisme hanya terpaku pada teori

Edy Suandi Hamid (Foto Ist)

Jogja (Antara Jogja) - Nasionalisme, nilai-nilai moral, dan pendidikan karakter sampai saat ini hanya terpaku pada teori dan belum beranjak ke ranah implementasi, kata Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Edy Suandi Hamid.

"Kondisi itu pada akhirnya mengantarkan produk pendidikan pada degradasi moral yang sangat memprihatinkan. Pemangku pendidikan belum mampu menginternalisasi pendidikan karakter sebagai arus utama dalam prosesnya, sehingga lulusannya tidak berkualitas," katanya di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, berdasarkan data 2010-2013 telah terjadi 826 aksi kekerasan yang melibatkan pelajar, sedangkan hingga 2013 ada 18 orang berlatar belakang akademisi yang terkena kasus korupsi. Kerugian negara dari sektor pendidikan yang dikorupsi berjumlah Rp617,8 milliar.

"Kondisi itu seolah kian mempertegas bahwa lembaga pendidikan telah kehilangan semangat aktualisasi visi dan misi pendidikan khususnya dalam hal ikut serta mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Edy yang juga Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi).

Oleh karena itu, kata dia, perlu adanya langkah solutif untuk menyelesaikan krisis pendidikan saat ini. Salah satunya adalah dengan mengembalikan roh pendidikan karakter yang selama ini seakan hilang dari dunia pendidikan Tanah Air.

Ia mengatakan pendidikan karakter penting dijadikan basis utama penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan karakter secara teori merupakan pengintegrasian antara kecerdasan intelektual dan akhlak mulia.

"Dalam praktik operasionalnya, pendidikan karakter melibatkan proses holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi terbentuknya generasi berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memegang prinsip-prinsip kebenaran," katanya.

Berkaitan dengan hal itu, pembelajaran karakter kebangsaan perlu terus dilakukan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Namun demikian, penanaman pendidikan karakter tidak dapat dilakukan seperti mentransfer ilmu pengetahuan atau mengajarkan sesuatu pelajaran kepada peserta didik.

Menurut dia, diperlukan bimbingan, keteladanan, pembiasaan atau pembudayaan serta ditunjang oleh iklim lingkungan yang kondusif baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

"Proses pembiasaan dan keteladanan pada kenyataannya memang tidak mudah. Diperlukan peran yang aktif dari orang tua, tokoh masyarakat, dan orang dewasa lainnya sebagai panutan bagi generasi muda," katanya.

(B015)
Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar