Logo Header Antaranews Jogja

Peneliti: demistifikasi persepsi bencana alam penting dilakukan

Sabtu, 1 Februari 2014 17:43 WIB
Image Print
Ilustrasi banjir di jalan tol (Foto antarafoto.com)

Jogja (Antara Jogja) - Kejadian bencana alam seperti gempa bumi, banjir, longsor, dan erupsi gunung berapi sering dikaitkan dengan mitos oleh sebagian masyarakat, sehingga upaya demistifikasi persepsi penting dilakukan, kata peneliti dari Universitas Gadjah Mada Dwikorita Karnawati.

"Demistifikasi persepsi pada masyarakat penting, karena mitos dan mispersepsi terkait kejadian bencana alam justru tidak memberikan dampak positif dalam penanggulangan bencana. Dalam konteks itu ilmu pengetahuan dan kearifan lokal bisa dimanfaatkan, meskipun tidak semua kejadian bencana bisa diungkap," katanya di Yogyakarta, Sabtu.

Pada seminar "Desmistifikasi Persepsi Masyarakat dalam Menghadapi Bencana Alam", ia mengatakan kejadian gempa bumi di Kebumen, Sabtu (25/1), dan gempa bumi di Bantul 2006 selalu dikaitkan dengan kemunculan awan cirrus (awan tegak lurus).

"Padahal, kemunculan awan tersebut bisa ada di mana-mana, tetapi tidak berpengaruh pada ada dan tidaknya kejadian gempa. Awan seperti itu juga pernah muncul di Malaysia, tetapi tidak terjadi gempa," kata Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan tepatnya kejadian gempa bumi akan berlangsung, sedangkan bencana banjir dan meletusnya gunung berapi masih bisa diprediksi dengan tanda-tanda aktivitas gejala alam yang ditimbulkan.

"Jika gempa bumi tidak bisa diprediksi jam, tanggal, bulan, dan tahunnya, tetapi erupsi gunug berapi masih bisa diprediksi melalui status aktivitasnya dari kondisi siaga dan awas, dan banjir lebih mudah lagi diprediksi," katanya.

Ia mengatakan khusus untuk banjir bandang, masyarakat bisa secara langsung untuk mengetahuinya dengan melihat munculnya gejala alam. Misalnya air sungai yang tiba-tiba berwarna kuning karena membawa kandungan pasir, lumpur atau membawa ranting dan kayu meskipun dalam kondisi tidak hujan, karena bisa jadi terjadi hujan di daerah hulunya.

Munculnya ranting dan batang kayu yang hanyut di sungai merupakan contoh untuk bencana banjir bandang. Banjir bandang disebabkan bendungan alami yang ada di daerah hulu sungai jebol.

"Bendungan alami terbentuk melalui ranting, pasir, dan kayu. Kejadian itu pernah terjadi di bencana banjir Sungai Wasior, Papua Barat, dan Bahorok, Sumatra Utara," katanya.

(B015)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026