Kriminolog: aktivitas politik jelang pemilu rawan kekerasan

id kriminolog: aktivitas politik

Kriminolog: aktivitas politik jelang pemilu rawan kekerasan

Ilustrasi (Foto Antara)

Jogja (Antara Jogja) - Aktivitas politik menjelang Pemilu 2014 memiliki kerawanan memicu tindakan kekerasan atau kriminal lainnya oleh pesertanya, sehingga perlu diwaspadai, kata kriminolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Suprapto.

"Secara teoritis, setiap aktivitas politik dalam proses penciptaan pengaruh ada yang memang bisa dilakukan secara halus melalui ceramah, sosialisasi, orasi sampai tindakan keras atau intimidasi," kata Suprapto di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, pada Pemilu 2014 memiliki potensi lebih besar dibandingkan Pemilu 2009, seiring dengan maraknya media komunikasi atau jejaring sosial secara meluas.

"Yang kemarin-kemarin (Pemilu 2009) kelihatannya tidak se-fulgar sekarang. Sekarang ini kan dengan adanya media, orang bisa berkomunikasi di mana saja, kapan saja secara bebas, itu pada sisi tertentu juga akan lebih memicu sensitivitas politik yang bisa berdampak kekerasan," kata dosen Sosiologi Kriminal Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM ini.

Menurut dia, dalam menciptakan pengaruh seharusnya parpol atau calon anggota legislatif (caleg) tetap menghindari tindakan melanggar hukum berupa intimidasi atau upaya lainnya yang membuat masyarakat takut.

Hal itu akan menciptakan cedera politik, baik bagi caleg atau parpol pengusung secara langsung.

"Jangan sampai membuat masyarakat kecewa, apalagi menyakiti. Itu akan membuat masyarakat mencatat dan tidak akan pernah terlupakan," kata dia.

Caleg, menurut dia, seharusnya tetap menyadari bahwa berbagai upaya politik yang dilakukan akan berdampak luas pada struktur organisasi atau parpol secara vertikal.

"Jadi, mestinya para caleg sadar bahwa dia tidak membawa dirinya sendiri. Sebagai anggota dari sebuah struktur sehingga seharusnya menjaga parpol pengusungnya," katanya.

Menurut Suprapto, sensitivitas yang memicu potensi tindakan kekerasan akan semakin menguat menjelang masa kampanye. Puncaknya akan terjadi saat masa penghitungan suara.

"Misalnya ada yang merasa alat peraganya dirobohkan, ini akan sangat rawan gesekan sehingga perlu diwaspadai oleh aparat Kepolisian. Puncaknya yakni saat penghitungan suara yang dipicu ketidakpuasan, meskipun masing-masing parpol telah mengirimkan saksi," katanya.

(KR-LQH)
Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar