Caleg perempuan PDIP kampanye di pasar tradisional

id caleg perempuan

Ervianamurti Kurnisetyowati (Foto Mamiek/Antara)

Gunung Kidul (Antara Jogja) - Calon anggota legislatif perempuan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ervianamurti Kurnisetyowati, memanfaatkan kampanye terbuka dengan membagi kartu nama di pasar tradisional.


Ervianamurti Kurnisetyowati di Gunung Kidul, Rabu, mengatakan meski dengan kampanye seadanya, dirinya meyakini apa yang dilakukan lebih bermanfaat bagi masyarakat dibandingkan dengan menggelar kampanye terbuka.

"Strategi kampanye ini keuntungannya bisa mendengarkan langsung keluhan dari masyarakat, seperti pedagang," kata Erviana saat ditemui di Pasar Argosari.

Meski partai yang mengusungnya hari ini (19/3) menggelar kampanye terbuka, ibu dua anak ini menilai kampanye secara terbuka dengan cara menggelar rapat umum tidak efektif untuk menarik simpati masyarakat.

Cara tersebut dinilai malah boros dan rawan gesekan antarwarga. "Belum lagi pelanggaran lalu lintas," kata dia.


Disinggung hasil yang diperolehnya dari blusukan di pasar tradisional, dia menilai sepinya pasar tradisonal karena banyaknya pasar modern di Kabupaten Gunung Kidul.

"Ini membuktikan pemerintah lemah dalam melindungi pedagang kecil," kata dia.

Caleg dapil 1 DPRD Gunung Kidul ini mengajak masyarakat untuk melawan politik uang. Hal ini mengajarkan masyarakat untuk tidak cerdas dalam berdemokrasi.

"Jangan sampai masyarakat hanya di bohongi dengan uang, sebagai calon wakil rakyat harus bertanggung jawab kepada pemilihnya," kata dia.

Erviana mengaku tidak mengeluarkan uang begitu besar untuk pencalonan dirinya. "Hari ini (Rabu) saja tidak lebih lima puluh ribu, untuk biaya mencetak kartu nama," katanya.

Sementara ribuan kader partai moncong putih menggelar kampanye terbuka di lapangan Karangrejek, Wonosari, dan menghadirkan orasi politik oleh Sekretaris DPD PDIP, Bambang Praswanto, dan pembacaan pesan dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati.

(KR-STR)

Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar