Logo Header Antaranews Jogja

KP4K Kulon Progo galakkan rumah pangan lestari

Sabtu, 6 September 2014 09:59 WIB
Image Print
produk hortikultura Indonesia (Foto Antara)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menggalakkan program kawasan rumah pangan lestari kepada masyarakat setempat.

Kepala KP4K Kulon Progo Maman Sugiri di Kulon Progo, Sabtu mengatakan kawasan rumah pangan lestari (KRPL) memanfaatkan lahan pekarangan dalam rangka mencukupi kebutuhan sayur-sayuran secara mandiri.

"Tujuan utama dari program ini adalah untuk menekan anggaran belanja setiap kepala keluarga (KK). Sebab, kebutuhan sayur sudah dapat dipenuhi dengan tamanan yang ditanam di pekarangan," kata Maman.

Ia mengatakan program KRPL ini sudah berkembang pesat di Kecamatan Kokap, Pengasih, Samigaluh, Girimulyo dan Sentolo. Masyarakat mulai menanam berbagai tanaman hortikultura seperti terung, sawi, kacang panjang.

"Kami terus melakukan pendampingan kepada masyarakat supaya menanam sayuran di pekarang. Harapanya, apabila hasilnya melimpah dapat dijual," katanya.

Penyuluh Pertanian Madya KP4K Kulon Progo Bejo Munanto mengatakan tanaman hortikultura merupakan salah satu metode budidaya pertanian modern.

"Masyarakat dapat melakukan budidaya tanaman hortikultura secara langsung di pekarangan rumah dengan menanam tanaman sayuran dan buah-buahan," kata Bejo.

Ia mengatakan pertanian hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan lahan kosong dipekarangan.

"Masyarakat harus bisa melihat bahwa komoditas hortikultura memiliki potensi untuk menjadi salah satu pertumbuhan baru di sektor pertanian. Oleh karena itu dimasa mendatang perlu ditingkatkan lagi penanganannya terutama dalam menyongsong pasar bebas abad 21," katanya.

Menurut dia, petani hortikultura merupakan petani yang responsif terhadap inovasi. Pengembangannya tentulah mempergunakan teknologi berupa penerapan teknologi budidaya, penggunaan sarana produksi dan pemakaian benih/bibit yang bermutu.

Kegiatan mitigasi yang dilakukan dalam kegiatan pertanian hortikultura agar tidak merusak lingkungan hidup adalah dengan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dan pengembangan areal pada lahan nonkawasan hutan, semak belukar dan lahan kritis.

Kemudian, penggunaan pupuk secara berimbang dan pengembangan pembuatan kompos atau pupuk organik.

"Kita tentu berharap, masyarakat tidak mengalihkan fungsi lahan pertanian dengan fungsi lain. Apalagi dipergunakan untuk pembangunan kawasan perumahan dan bangunan permanen lainnya," kata dia.

Ia mengatakan sudah saatnya pemerintah, khususnya Pemkab Kulon Progo segera mengambil langkah cepat untuk menanggulangi berbagai macam ancaman yang dapat membahayakan kehidupan petani dan hasil produksi pertanian.

"Petani adalah pekerjaan yang mulia, dan tidak lagi harus dipandang sebelah mata sebagai suatu mata pencaharian. Petani adalah salah satu bentuk pengabdian terhadap negara. Melalui jasa-jasa para petani lah sampai dengan hari ini kita masih bisa menikmati berbagai macam hasil yang dihasilkan oleh para petani, seperti beras, sayuran, buah-buahan dan berbagai macam hasil produksi pertanian yang lainnya," kata dia.

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026