
Legislator Bantul sayangkan kasus keracunan buruh pabrik

Bantul (Antara Jogja) - DPRD Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyayangkan terjadinya keracunan ratusan buruh pabrik wig PT Dong Young Tress yang diduga akibat makanan dari jasa katering yang disediakan pabrik itu pada Rabu (4/2) petang.
"Sungguh disayangkan kejadian ini, karena kasus ini sudah yang kedua kali, seharusnya tidak terjadi lagi," kata Ketua Komisi D DRPD Bantul Enggar Suryo Jatmiko di sela meninjau korban keracunan massal yang dirawat di Rumah Sakit (RS) Rajawali Bantul, Kamis.
Ratusan buruh pabrik rambut palsu yang berlokasi di Dusun Nganyang, Desa Sitimulyo, Piyungan, Rabu (4/2) petang dilaporkan muntah-muntah setelah menyantap makanan berupa opor ayam dari salah satu jasa katering makanan di Kotagede Kota Yogyakarta.
Kasus tersebut mirip dengan kejadian yang menimpa buruh pabrik setempat pada November 2014, yang sudah dipastikan mengalami keracunan makanan, karena saat itu pihak katering belum mengantongi izin dari instansi terkait.
"Informasinya pihak katering makanan dari Kotagede mengakui jika sebagian santan yang digunakan untuk memasak merupakan sisa hari sebelumnya," kata politisi dari Partai Gerindra tersebut.
Oleh sebab itu, kata dia, Komisi D DPRD Bantul berharap agar ada evaluasi secara menyeluruh dari instansi terkait terhadap perusahaan tersebut, termasuk soal katering.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Bantul Supriyono mengatakan atas kondisi ini pihaknya berencana memanggil pihak perusahaan dan dinas terkait lainnya untuk mencarikan solusi yang terbaik agar keracunan massal karena makanan ini tidak terulang lagi.
"Kalau saya justru mengusulkan agar uang makan diberikan langsung kepada pegawai agar mereka membawa bekal makan dari rumah kalau memang ketika jam istirahat untuk makan tidak boleh keluar lingkungan perusahaan," katanya.
Menurut dia, Komisi D DPRD justru berinisiatif melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke perusahaan lain untuk mengetahui apakah uang makan diberikan langsung atau diwujudkan perusahaan dengan menyediakan makanan dari katering.
"Kami juga mendengar ada salah satu perusahaan dengan jumlah karyawan ribuan namun menggantikan uang makan dengan jatah mi, sehingga tiap akhir pekan karyawan di perusahaan tersebut membawa banyak pulang mi," katanya.
(KR-HRI)
Pewarta : Oleh Heri Sidik
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
