Penambahan lampu lalu lintas dikhawatirkan menyebabkan antrean

id lampu lalu lintas

Lampu pengatur lalu lintas (Foto antaranews.com)

Yogyakarta, (Antara Jogja) - Penambahan alat pemberi isyarat lampu lalu lintas di ujung utara Jalan layang Lempuyangan KOta Yogyakarta dikhawatirkan menambah beban jalan karena antrean kendaraan bisa mengular hingga puncak jalan pada jam tertentu.

"Kondisi jalan layang Lempuyangan cukup baik. Namun, jalan layang tersebut sebaiknya tidak dibebani dengan kendaraan dalam posisi berhenti tetapi sebaiknya kendaraan selalu bergerak," kata Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Yogyakarta Toto Suroto di Yogyakarta, Selasa.

Menurut Toto, jalan layang yang dibangun pada akhir 1980 tersebut didesain untuk memiliki usia teknis sekitar 50 tahun. Jalan layang tersebut terakhir kali diperiksa setelah Kota Yogyakarta diguncang gempa pada 2006.

Secara umum, lanjut dia, bentangan jalan layang tersebut tidak terlalu panjang dan tidak banyak memiliki kolong. Kolong jalan layang hanya berada di jalur rel kereta api sekitar Stasiun Lempuyangan.

Lama lampu lalu lintas di ujung utara jalan layang, lanjut Toto, perlu diatur agar tidak banyak kendaraan yang harus berhenti di jalan layang saat menunggu lampu merah.

Penambahan lampu lalu lintas di ujung utara jalan layang Lempuyangan di di ujung Jalan Atmosukarto dilakukan untuk mengurangi konflik kendaraan dari arah Stadion Kridosono yang ingin berbelok ke selatan dan memotong kendaraan di jalan layang Lempuyangan.

Kepala Seksi Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Windarto mengatakan, penambahan lampu lalu lintas di simpang jalan layang Lempuyangan tersebut baru merupakan tahap uji coba.

"Perubahan akibat tambahan lampu lalu lintas itu masih terus kami pantau, baik itu kondisi di Jalan Atmo Sukarto dan di jalan layang Lempuyangan," katanya.

Selama pelaksanaan uji coba, kondisi lalu lintas di jalan layang Lempuyangan tidak terlalu padat dan tidak terjadi antrean kendaraan yang panjang hingga puncak jalan layang.

Kepadatan di jalan layang tersebut, lanjut dia, hanya terjadi pada pagi dan sore hari saat masyarakat berangkat dan pulang dari bekerja. Kepadatan justru lebih sering terlihat di Jalan Atmosukarto.

"Lama waktu lampu lalu lintas pun disesuaikan agar kendaraan tetap bisa melaju dengan lancar dan mengurangi potensi berhenti di jalan layang," katanya. ***3***

(E013)
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar