Wamenlu: diplomasi Indonesia-Mesir perlu dioptimalkan

id wamenlu

Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir (foto kemlu.go.id)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Diplomasi Indonesia dengan Mesir perlu dioptimalkan agar hubungan kedua negara tidak timpang, kata Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir.

"Tidak banyak masyarakat yang menyadari di balik keharmonisan yang ada, terdapat ketimpangan, ketidakseimbangan, dan kepincangan hubungan kerja sama antara Indonesia dengan Mesir," katanya di Yogyakarta, Selasa.

Saat mempertahankan disertasinya untuk meraih gelar doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), ia mengatakan Indonesia selalu memandang Mesir penting, sebaliknya Mesir hanya memandang sebelah mata terhadap Indonesia.

"Kenyataan itu cukup membuktikan hubungan Indonesia-Mesir yang berlangsung selama ini tidak seimbang dan berat sebelah," kata mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Mesir itu.

Menurut dia, ketimpangan itu muncul justru setelah Indonesia meraih hasil perjuangannya untuk mendapatkan pengakuan internasional sebagai syarat sahnya negara merdeka.

Berdasarkan penelitiannya, ketimpangan terlihat dari beberapa aspek, di antaranya ketimpangan formasi perwakilan diplomatik kedua negara, kunjungan pejabat kedua negara, kerja sama negara dalam bidang perdagangan, munculnya beberapa tantangan yang memperlambat peningkatan hubungan kedua negara.

Ia mengatakan peluang peningkatan kerja sama dalam bidang ekonomi juga belum dimaksimalkan kedua negara dan belum terlaksananya diplomasi total pada tingkat pemerintah atau masyarakat di dua negara tersebut.

"Untuk mewujudkan hubungan yang resiprokal, Indonesia harus menunjukkan kelasnya sebagai negara yang patut diperhitungkan oleh Mesir," katanya.

Menurut dia, Mesir tercatat sebagai negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Mesir juga merupakan negara pertama yang menandatangani perjanjian persahabatan dengan Indonesia yang diikuti dengan pembukaan perwakilan di Kairo dan di Jakarta pada 1950/1951.

"Mesir juga tercatat sebagai negara tempat menuntut ilmu bagi putra-putri Indonesia sejak sebelum abad ke-19 Masehi," katanya.

Ia mengatakan hubungan Indonesia-Mesir yang sangat historis dan bahkan emosional itu yang semestinya dijadikan modal penting bagi kedua negara untuk meningkatkan hubungan kerja sama ke tingkat yang lebih strategis.

"Dengan demikian, hubungan kerja sama kedua negara menjadi lebih seimbang, bermakna, dan saling memandang penting," katanya.

Dalam uji disertasi tersebut Fachir dinyatakan lulus dengan predikat "sangat memuaskan" dan berhak menyandang gelar doktor.
B015
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar