
FAO akan bawa 26 negara belajar "Ugadi" di Sleman

Sleman, (Antara Jogja) - Budi daya udang galah dan padi dalam satu area yang dikembangkan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata menjadi percontohan nasional, bahkan Lembaga Pangan Dunia atau FAO mengakui dan akan membawa 26 negara di dunia untuk melihat langsung dan belajar di Sleman.
"Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan DIY Anung Pribadi pada saat panen udang galah padi (ugadi) di Kumendang Candibinangun Pakem, akhir pekan lalu," kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman Widi Sutikno, Senin.
Menurut dia, sistem ugadi terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Karena selama ini dengan sistim mina padi mampu meningkatkan pendapatan petani.
"Terlebih dengan sistim Ugadi tersebut pendapatan petani akan lebih meningkat, karena memperoleh dua hasil sekaligus. Dari hasil padi dan udang," ucapnya.
Ketua Kelompok Ulam Sari Slamet Haryanto mengatakan, budidaya udang galah dengan sistim Ugadi telah dilakukan di kelompok Mino Ulam Asri yang penebaran perdananya dilakukan Sabtu 23 Mei 2015.
"Sementara untuk tanaman padi dengan tanam sistim jajar legowo keuntungan akan lebih meningkat disamping ongkos produksi bisa ditekan, karena tidak memerlukan pupuk kimia/urea. Karena sisa dari makanan udang/ikan tersebut merupakan pupuk yang sangat baik," tuturnya.
Ia mengtakan, Kelompok Ulam Sari terdiri dari 36 Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) dan dua di antaranya Kelompok Pengolah dan Pemasaran dengan luas budidaya ugadi/mina padi tujuh hektare yang terdiri dari 5,23 hektare untuk lahan mina padi dilakukan oleh 12 Pokdakan di empat desa dan ugadi 1,77 hektare dilakukan lima pokdakan di tiga desa.
"Uji coba yang telah dilakukan kenaikan produksi padi dengan sistim ugadi tersebut untuk padi tertinggi mencapai 12 ton per hektare gabah kering panen (GKP) dan terendah 8,8 ton per hektare GKP sehingga kenaikan produksi mencapai 20 persen dibanding dengan sistim biasa," paparnya.
Menurut dia, disamping kenaikan produksi padi yang meningkat 20 persen, maka pendapatan yang lain berupa udang yang mencapai produksi tertinggi 173 kilogram dan terendah 152 kilogran untuk jumlah tebaran 10.000 ekor udang.
"Namun, kendala yang dialami yakni adanya jamur dan belum sinkronnya antara waktu tanam padi dengan ketersediaan bibit udang galah," ujarnya.***1***
(V001)
Pewarta : Oleh Victorianus Sat Pranyoto
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
