Bantul dorong peternak sapi miliki orientasi bisnis

id ternak sapi

ilustrasi ternak sapi (antaranews.com)

Bantul, (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong peternak sapi di daerah ini memiliki orientasi bisnis dengan menjual ternak mereka kepada pedagang besar kemudian mengembangbiakan lagi.

"Itu yang perlu kita dorong, supaya para peternak sapi kita memiliki orientasi bisnis dan lebih meningkat lagi," kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul, Tri Saktiyana di Bantul, Minggu.

Menurut dia, dorongan agar peternak sapi mempunyai sifat bisnis demi peningkatan pendapatan mereka karena pihaknya mengakui masih banyak peternak yang memelihara sapi bukan untuk kepentingan diperdagangkan melainkan untuk hobi.

Ia mengatakan, kondisi itu mengakibatkan ketersediaan sapi potong tidak sesuai dengan jumlah populasi sapi yang terdata, padahal biasanya data populasi ternak di suatu daerah digunakan sebagai acuan stok sapi untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat.

"Ada peternak yang mau menjual tapi harganya tinggi di luar standar, misalnya Rp13 juta per ekor, padahal harga pasarannya Rp10 juta, kalau nggak ya nggak usah, lha saya tidak butuh duit. Jadi lebih banyak yang untuk hobi," katanya.

Ia mengatakan, adanya peternak yang belum memiliki orientasi bisnis karena hobi memelihara sapi atau hanya menjual dengan harga tinggi seringkali membuat pedagang sulit mendapat sapi siap potong, kalaupun ada maka harga dagingnya akan naik.

"Kadang ada sapi yang dipakai untuk tenaga pembajak sawah, itu kan tidak nyambung, jadi memang banyak kepentingan mengenai masalah daging," katanya.

Sementara, Ketua Paguyuban Pedagang Sapi Desa Segoroyoso Bantul, Ilham Jayadi mengatakan terkadang pedagang daging sering kesulitan mendapat sapi siap potong, jikapun ada yaitu sapi belum siap potong sehingga kurang menguntungkan secara ekonomi dan kelangsungan industri.

Menurut dia, hal tersebut juga disebabkan sebagian besar peternak sapi di Bantul masih berpikiran tradisional yang mana pemeliharaan sapi tidak untuk industri namun hanya hobi dan simpanan, padahal kebutuhan daging sapi masyarakat makin meningkat.

"Kalau tidak kita ikuti industrialisasi, daging India bebas masuk, masyarakat dan peternak yang hancur, sehingga kalau tidak segera ditangani daging sapi impor bisa menguasai pasar lokal," katanya. ***3***

(KR-HRI)

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar