Bupati Kulon Progo ajak masyarakat bangkitkan nasionalisme

id Bupati Kulon Progo ajak masyarakat bangkitkan nasionalisme

Bupati Kulon Progo ajak masyarakat bangkitkan nasionalisme

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo, (Antara Jogja) - Bupati Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengajak masyarakat membangkitkan semangat patriotisme, nasionalisme, persatuan, kesatuan, dan kesadaran memperjuangkan bangsa yang berdaulat, berkepribadian, dan mandiri.

"Kami sangat berharap 2016 menjadi era kebangkitan kedua yang menyerupai gerakan Budi Utomo 1908 atau gerakan Sarekat Dagang Islam," kata Hasto pada peringatakan Kebangkitan Nasional di Kulon Progo, Jumat.

Menurut dia, pada 2016 bagi bangsa Indonesia merupakan tahun ancaman sekaligus ujian serius terhadap kemandirian dalam bidang ekonomi karena globalisasi dan perdagangan bebas, mau tidak mau, siap tidak siap, harus diterima terlebih dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Banjir impor barang kebutuhan rumah tangga, yang lebih banyak, lebih murah, canggih, dan menarik tidak bisa dihindari. "Bangsa kita bisa menjadi konsumen terbesar produk pertanian, industri, elektronik (handphone), dan barang teknologi (mobil/motor) dari negara lain. Perbankan dalam negeri lebih 50 persen juga dikuasai asing, karena tingkat suku bunganya jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju," katanya.

"Di sisi lain banyak barang murah masyarakat akan konsumtif kurang menabung dan kurang produktif sehingga dalam keadaan krisis kurang memiliki daya tahan," katanya.

Kenyataan ini seperti yang pernah diucapkan Bung Karno di Harian Suluh Indonesia pada 1930 tentang ciri-ciri ekonomi negeri jajahan. Pertama, negeri dijadikan sumber bahan baku murah oleh negara penjajah, kedua, dijadikan pasar untuk menjual produk industrinya, dan ketiga dijadikan tempat memutar uang negeri penjajah demi mendapatkan rente.

"Selain itu, kesiapan teknologi dan infrastruktur kita belum mampu bersaing di era perdagangan bebas. Waktu sudah habis ibarat kapal sudah mulai terbakar penumpang harus loncat. Tidak banyak pilihan cara untuk menandingi ketertinggalan teknologi di era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Hanya satu pilihannya yaitu bangkit dan melawan teknologi dengan ideologi," katanya.

Ia mengatakan perlu dirumuskan bersama paradigma jiwa patriot dan nasionalisme baru pada era globalisasi. Harus ada kebangkitan baru, semangat persatuan membela negara, jadikan bangsa tetap bermartabat dan mandiri.

Pada masa pemerintahannya, kata dia, dirinya telah berusaha mengamalkan hal ini melalui gerakan "Bela-Beli Kulon Progo" sehingga di Kabupaten Kulon Progo menyediakan sendiri air minum dalam kemasan AirKu, beras dari hasil petani, teh dan kopi Suroloyo, gula semut, batik Gebleg Renteng dan tenun mumbul.

"Semua produk itu ditujukan untuk menguasai pasar sendiri dan mengurangi pemakaian produk asing," kata dia.



(U.KR-STR)
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar