BKPM: daya saing pariwisata Indonesia lemah

id hasto wardoyo

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo, (Antara Jogja) - Badan Koordinasi Penanaman Modal menilai daya saing pariwisata di Indonesia masih lemah dibandingkan negara di Asia Tenggara karena sumber daya manusianya belum profesional mengelola potensi wisata dan budaya yang ada.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal (BKPM) Tamba Parulian Hutapea di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, mengatakan daya saing pariwisata Indonesia menempati urutan ke-50 dari 141 negara.

"Hal ini menunjukkan pariwisata Indonesia berpotensi berkembang, khususnya sektor pariwisata, kekayaan alam, dan harga yang bersaing," kata Tamba dalam acara "Membedah Potensi Investasi dan Pariwisata DIY".

Menurut dia, industri pariwisata memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi dan menciptkan lapangan pekerjaan baik saat ini dan masa yang akan datang. Sektor ekonomi mampu mendongkrak PDRB daerah.

Jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 10,4 juta orang yang mampu menyumbang devisa Rp15,5 triliun. "Semakin banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia, makin banyak menyumbang devisa dan menggerakan ekonomi setiap daerah," katanya.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo mengatakan investasi di Kulon Progo dari 2011 hingga 2015 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada 2012 investasi di Kulon Progo hanya sebesar Rp144 miliar, tapi pada 2015 mengalami kenaikan yaitu sebesar Rp1,04 triliun.

Hal tersebut merupakan prestasi yang luar biasa. Oleh karena itu, ia menghimbau kepada unsur terkait agar mempermudah investasi di Kulon Progo.

"Kalau mau Investasi jangan ada rasa pengin mendapatkan sesuatu diluar semestinya. Kalau pengusaha mau investasi ya langsung aja ke warga atau melalui forum CSR," katanya.

Hasto menambahkan Investasi di Kulon Progo tidak akan terganggu, karena letak geografis di daerah ini sangat mendukung. Sebagai contoh jika terjadi gunung meletus di sebelah timur Sungai Progo, tidak khawatir karena imbasnya tidak sampai di Kulon Progo.

Pengembangan potensi lainnya, lanjut Hasto adalah akan mengembangkan kawasan industri di Sentolo, karena daearah ini sangat strategis yang sebagai daerah penghubung antara Yogyakarta dengan Kulon Progo dan kalau mau ke bandara juga dekat.

Potensi sektor lain yang dikembangkan, menurut dokter Hasto adalah pengembangan produk lokal seperti gula semut, gula merah atau gula jawa. Produk ini tidak akan ada yang menandingi karena di beberapa negara tidak ada yang namanya memanjat pohon kelapa secara manual atau nderes secara manual.

"Gula merah adalah peluru tajam yang bisa menjaga diri atau bersaing dengan negara lain di ASEAN," kata Hasto. ***3***

(KR-STR)

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar