Logo Header Antaranews Jogja

Produksi kopi Sleman turun akibat kemarau basah

Senin, 8 Agustus 2016 13:11 WIB
Image Print
ilustrasi (Foto ANTARA/Maryati)

Sleman (Antara Jogja) - Produksi kopi di sentra perkebunan kopi lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2016 diperkirakan menurun akibat pengaruh anomali cuaca berupa kemarau basah.

Kepala Seksie Bina Produksi Bidang Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (DPPK) Sleman Siti Rochayah di Sleman, Senin mengatakan, produksi biji kopi kering saat ini hanya sekitar lima kuintal per hektare.

"Pada saat cuaca normal, produksi kopi lereng Gunung Merapi bisa mencapai enam kuintal per hektare. Musim kemarau cenderung basah dengan hujan relatif masih sering terjadi menghambat proses pengeringan," katanya.

Menurut dia, saat ini luasan lahan kopi di kawasan lereng Merapi seluas 119 hektare dengan potensi produksi kopi mencapai 650 kuintal biji kopi.

"Kebun kopi di Sleman banyak terdapat di lereng Gunung Merapi, di dominasi dari Kecamatan Cangkringan dan Turi," katanya.

Ia mengatakan, luas lahan kopi di Lereng Merapi, menurun drastis jika dibandingkan sebelum erupsi Gunung Merapi 2010, dimana luasan lahan perkebunan kopi Merapi mencapai 283,87 hektare.

"Saat erupsi besar Gunung Merapi seluas 214 hektare lahan perkebunan kopi rusak, kemudian pada 2012 dilakukan penanaman kembali," katanya.

Siti mengatakan, dari total 252 hektare lahan kopi aktif di Sleman kopi yang ditanam berjenis robusta sekitar 232 hektare dan arabica 52 hektare.

"Belum semua tanaman dalam tahap produktif, sebagian masih belum bisa dipetik," katanya.

Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kopi Merapi?Sumijo mengatakan, proses pengeringan biji kopi pada cuaca kemarau normal rata-rata hanya membutuhkan waktu satu pekan. Tahun ini, proses pengeringan biji kopi bisa berlangsung dua sampai tiga pekan.

"Petani baru bisa menjual biji kopi kering pada pertengahan atau akhir Agustus," katanya.

Menurut dia, saat ini biji kopi robusta di lahan seluas 100 hektare di wilayah Cangkringan baru saja dipanen. Harapan petani kopi, wilayah Lereng Merapi nantinya memiliki lahan pengeringan khusus beratap.

"Sehingga, saat hujan datang, petani tidak perlu repot-repot mengangkut biji kopi yang sedang dijemur kemudian mengulang penjemuran dari awal," katanya.
V001



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026