Furniture akar kayu diminati di Inggris

id furniture akar kayu

Furniture akar kayu diminati di Inggris

Ilustrasi kerajinan aka r kayu, dok (ANTARA FOTO/Sahlan Kurniawan)

London (Antara) - Produk kursi dan meja yang dibuat dari dahan dan akar pohon yang diproduksi  perusahaan mebel dari Solo Aninda Furniture serta  produksi lampu taman dari batu alam dari Yuka Stone Art Yogyakarta diminati di Inggris.

Konsumen Inggris umumnya menyukai produk natural seperti kursi  dari dahan atau akar pohon atau juga sapu lidi yang dipakai dalam film "Harry Potter" serta produk lampu taman dari batu alam, demikian Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI London, Hastin Dumadi, kepada Antara, Selasa.

Dikatakannya KBRI London dan  Kementerian Perdagangan RI memfasilitasi tiga pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM) dari Indonesia untuk mengikuti pameran Garden and Leisure Exhibition (GLEE) yang berlangsung di Birmingham dari tanggal 12 hingga 14 September mendatang .

GLEE merupakan ajang pameran tahunan yang menampilkan produk-pruduk terkait pertamanan dan mebel.

Tiga UKM dari Indonesia mengisi Paviliun Indonesia yaitu Indomop dari  Tangerang Selatan yang memproduksi alat-alat kebersihan, Aninda Furniture dari Solo memproduksi mebel dan patung dari kayu, Yuka Stone Art dari Yogyakarta memproduksi lampu taman dari batu alam.

Agus Sidjoatmojo dari Indomop mengatakan keikutserataan perusahannya dalam ajang pameran di Inggris yang pertama kalinya.

"Saya berharap melalui partisipasi ini kami dapat memperluas pasar ekspor produk alat kebersihan seperti sapu lantai, sapu halaman, sikat, penyapu air, ke pasar Eropa," ujarnya.

Diakui bahwa ia tidak menyangka respon yang cukup positif, tidak saja perusahaan dari Inggris tetapi juga negara lain yang  hadir dalam pameran, ujar Agus Sidjoatmojo.

Respon positif terhadap produk Indonesia yang ditampilkan juga datang dari peserta pameran lainnya. Bahkan ketika Paviliun Indonesia baru selesai ditata, beberapa peserta pameran datang ke Paviliun Indonesia dan berkeinginan membeli produk yang ditampilkan.

James Carter dari perusahaan Pines and Needles yang menjual produk tanaman langsung tertarik membeli produk kursi dan meja dari perusahaan Aninda Furniture karena desain mebel dari perusahaan mebel dari Solo yang dibuat dari dahan dan akar pohon.

Biyp Mokhsen dari Aninda Furniture mengakui perusahaannya 
memanfaatkan limbah kayu sehingga dahan dan akar kayu dibuat menjadi kursi dan meja yang unik.

Seperti pelanggannya yang datang dari Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab, yang merespon begitupun peserta dan pengunjung di GLEE juga bagus sekali, ujarnya.

Diakuinya desain produk yang memanfaatkan bagian kayu yang selama ini tidak terpakai dinilai cukup unik.

"Usaha kami berorientasi ekspor, dan ingin melihat dan mendengar langsung selera dan spesifikasi yang diinginkan konsumen sehingga tidak segan-segan untuk bisa berpartisipasi di pameran dagang di luar negeri," katanya.

Nurihidayati juga dari Aninda Furniture mengakui komentar dan masukan dari konsumen selalu menjadi masukan berguna untuk peningkatan kualitas produk yang mereka produksi.

Melalui ajang pameran KBRI London berupaya menarik buyers untuk  berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia yang akan diselenggarakan di Jakarta  Oktober mendatang.

Stewart Gordon dari perusahaan Yuka Stone Art menyambut positif inisiatif KBRI London dan Kementerian Perdagangan untuk berpartisipasi dalam pameran ini karena dari hari pertama partisipasi Yuka Stone Art di Paviliun Indonesia sudah ada tiga perusahaan Inggris yang ingin memesan produk Yuka dalam jumlah besar.  

Melalui partisipasi Indonesia dalam ajang pameran ini, KBRI London dapat terus  mendukung upaya Pemerintah untuk meningkatkan ekspor Indonesia dengan berbagai variasi produk.

Perusahaan Indonesia yang ingin berpartisipasi di pameran dagang di luar negeri dapat melihat daftar kegiatan pameran yang dilaksanakan Perwakilan RI di luar negeri diantaranya di website Kementerian Perdagangan yang menghimpun informasi kegiatan pameran dagang dari Perwakilan RI di luar negeri.(ZG)****3****

Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar