Akademisi: keanekaragaman hayati potensial dikembangkan sebagai obat

id uii

Akademisi: keanekaragaman hayati potensial dikembangkan sebagai obat

Rektor UII Harsoyo (Foto Istimewa)

Yogyakarta (Antara) - Keanekaragaman hayati Indonesia berupa tumbuhan dan organisme laut dengan kekayaan kandungan senyawa kimianya potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan, kosmetika, dan obat-obatan, kata Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Harsoyo.

"Keanekaragaman hayati itu merupakan sumber kimia bahan alam. Keanakeragaman tumbuhan dan organisme laut itu sangat potensial menjadi kajian para pemerhati kimia bahan alam," katanya di Auditorium Kahar Muzakkir Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Selasa.

Pada Simposium Nasional Kimia Bahan Alam XXIV, Harsoyo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan keanekaragaman sumber bahan alam, baik tumbuhan maupun organisme laut yang paling tinggi di dunia.

Hal itu menjadikan Indonesia salah satu negara penghasil berbagai jenis senyawa bahan alam dengan karakter yang khas dan unik.

"Namun, pemanfaatan sumber daya alam dengan kekayaan senyawa kimia tersebut dinilai belum optimal. Padahal, keunggulan hayati tersebut sangat penting artinya bagi peningkatan daya saing bangsa," katanya.

Menurut dia, riset dan kajian yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk menggali manfaat di balik keanekaragaman hayati Indonesia. Di negeri ini terdapat 25.000 jenis atau lebih dari 10 persen flora dunia.

"Lumut dan ganggang diperkirakan jumlahnya 35.000 jenis. Sekitar 40 persen dari jenis itu hanya terdapat di Indonesia dan tidak terdapat di tempat lain di dunia," kata Harsoyo.

Ketua Pelaksana Simposium Nasional Kimia Bahan Alam XXIV Pinus Jumaryatno mengatakan bahwa para pakar bidang kajian kimia bahan alam, farmasi, dan kedokteran datang dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di dalam dan luar negeri.

"Kegiatan itu secara detail membahas perkembangan terkini berkenaan dengan ilmu kimia bahan alam serta diharapkan dapat menjadi media pertukaran informasi dan memperkuat jalinan kerja sama penelitian," katanya.

Menurut dia, simposium yang berlangsung hingga 19 Oktober itu diadakan oleh Program Studi Farmasi UII bekerja sama dengan Himpunan Kimia Bahan Alam Indonesia.

"Peserta dari kegiatan itu antara lain dosen dan peneliti kimia bahan alam dari seluruh Indonesia," kata Pinus.

(B015)
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar