Mayoritas petani Bantul terapkan tanam jajar legowo

id tanam padi

Tanam padi (Foto Antara)

Bantul, (Antara Jogja) - Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan mayoritas petani di daerah ini pada musim tanam Oktober sudah menerapkan pola tanam jajar legowo.

"Total keseluruhan PAD yang ditanam pada musim sekarang seluas 900 hektare, belum semua terapkan tanam jajar legowo, paling sekitar 60 persen," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Kamis.

Menurut dia, penerapan pola tanam jajar legowo memang selama ini menjadi metode tanam yang dianjurkan pemerintah kepada petani, karena dengan pola tanam itu dapat meningkatkan produksi padi dibanding pola tanam biasa.

Untuk itu, kata dia, instansinya terus mendorong petani di wilayah Bantul yang belum untuk beralih ke tanam jajar legowo, dan jika masih kesulitan bisa meminta pendampingan petugas penyuluh beserta cara melakukan tanam.

Ia menjelaskan, dalam menerapkan pola tanam jajar legowo sebetulnya petani tidak perlu menggunakan alat mesin pertanian berupa transplanter, namun menggunakan `blat` atau semacam papan kayu dengan pola jajar legowo yang dibuat petani sendiri.

"Sebetulnyua kalau ada keluhan itu karena adanya tambahan biaya di dalam proses jajar legowo itu, tetapi kalau sudah ada mesinnya atau `blat` (alat tanam pola jajar legowo) menjadi tidak ada tambahan biaya," katanya.

Menurut dia, jika petani belum memiliki alat tersebut, maka bisa meminjam di Balai Benih Pertanian (BPP) Barongan yang ada di bawah Dinas Pertanian, agar dalam menerapkan teknologi tanam itu bisa sesuai ukurannya dan hasilnya maksimal.

"Di BPP itu ada `blat` kalau mau dipinjam petani boleh, untuk tanam jajar legowo itu harus ada alatnya untuk mengukur jarak tanamnya, sehingga tanamnya bisa maju dan tidak mundur dengan `blat` itu," katanya.

Pulung mengatakan, dengan penerapan pola tanam jajar legowo yang sudah diuji Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian itu keuntungannya peningkatan produksi panen, sehingga nantinya akan lebih mampu meningkatkan produksi pangan.***3***

(KR-HRI)

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar