Sleman sosialisasikan penerapan disiplin positif tenaga pendidik

id guru

Ilustrasi (FOTO ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Sleman (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan sosialisasi penerapan disiplin positif bagi tenaga pendidik, Selasa.

"Dengan diselenggarakannya sosialisasi penerapan disiplin positif bagi tenaga pendidik di Kabupaten Sleman semakin siap dan handal dalam membangun generasi-generasi muda yang berkepribadian cerdas, positif dan tangguh," kata Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun saat membuka sosialisasi.

Menurut dia, hal tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak, bahwa guna memastikan terpenuhinya hak-hak anak harus didukung berbagai unsur dalam lingkungan terdekat anak termasuk diantaranya para tenaga pendidik.

"Setiap anak, sejak dalam kandungan hingga mencapai 18 tahun, memiliki hak-hak dasar yang melekat pada setiap diri anak yang harus dihormati, dilindungi, serta dipenuhi," katanya.

Ia mengatakan, dalam setiap fase tumbuhkembang anak, pola asuh dan pola didik harus disesuaikan. Keberhasilan dalam mengarahkan, mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kepada anak menjadi penentu terbentuknya karakter dan pribadi anak.

"Oleh karena itu momentum optimalisasi dan pembentukan karakter anak menjadi momentum penting bagi tumbuhnya generasi yang cerdas, tangguh dan positif. Momentum tumbuh kembang tersebut hendaknya disikapi dengan pemahaman yang benar, baik dari para orang tua maupun tenaga pendidik, sehingga diharapkan metode yang digunakan tepat dalam pembentukan karakter yang positif," katanya.

Sri Muslimatun mengatakan, masa anak-anak hanya akan terjadi satu kali, namun jika keliru dalam menanamkan nilai-nilai positif dalam pembentukan karakternya hal itu akan berpengaruh bagi perilaku dan sudut pandangnya seumur hidup.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Pengendalian Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Mafilindati Nuraini mengatakan untuk mewujutkan Kabupaten Layak Anak, maka telah diinisiasi 50 Sekolah yang terdiri ?dari 23 SMP dan 27 SD untuk dikembangkan menjadi sekolah ramah anak, yang merupakan indikator penting dalam pengembangan program kabupaten Layah Anak.

"Tujuan sosialisasi itu sendiri untuk memberikan pemahaman kepada para pendidik tentang pentingnya penerapan disiplin positif pada satuan pendidikan, untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak," katanya.

Peserta sebanyajk 60 orang dari pendidik SMP yang sekolahnya telah diinisiasi menjadi Sekolah Ramah Anak.

Sedangkan Asisten Deputi Perlindungan Anak dan Kekerasan dan Eskploitasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI? Rini Handayani menyampaikan bahwa karena sepertiga anak waktunya berada di sekolah, maka sering terjadi kekerasan di sekolah, oleh karena penting diadakannya sosialisasi penerapan disiplin positif bagi tenaga pendidik.

"Karena sering terjadi maksud guru memberi hukuman disiplin, tetapi pelaksanaannya menjadi lain dan malah yang kena gurunya sendiri. Karena pada prinsipnya tidak ada guru yang akan mencelakakan muridnya," katanya.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan Buku? Disiplin bagi tenaga pendidik oleh Rini Handayani kepada Wakil Bupati Sleman.
V001
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar