Dispora: tantangan pembinaan generasi muda semakin berat

Pewarta : id Diaspora

www.diasporaindonesia.org (ist.)

Sleman, (Antara Jogja) - Tantangan terhadap pembinaan generasi muda semakin semakin berat sehingga dibutuhkan kerja keras semua pihak, kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Agung Armawanta.

"Untuk menjawab permasalahan tersebut, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman mengambil peran dalam pembinaan generasi muda," katanya pada Sarasehan Pembinaan Budi Pekerti dan Karakter Bangsa Kabupaten Sleman, Senin.

Menurut dia, sarasehan tersebut diikuti 100 peserta dengan usia 16 hingga 30 tahun yang merupakan utusan/perwakilan dari organisasi kemasyarakatan dan lembaga kepemudaan tingkat desa se Kabupaten Sleman.

"Materi pembiaan yang diberikan dalam sarasehan ini meliputi peningkatan wawasan religi, budi pekerti, kedisiplinan, suksestori, dan pemuda sebagai subjek pembangunan dalam kehidupan berbangsa bernegara," katanya.

Ia mengatakan, tujuan pelaksanaan sarasehan tersebut antara lain untuk membangun tali silaturahmi, komunikasi dan interaksi diantara stakeholder pembinaan dan komponen kepemudaan.

"Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk mengupayakan pentingnya peningkatan kualitas karakter generaqsi muda kaitannya dengan posisi dan peran strategi pemuda bagi masa depan bangsa dan negara," katanya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Sumadi mengatakan penyelenggaraan Sarasehan Pembinaan Budi Pekerti dan Karakter Bangsa ini merupakan salah satu upaya untuk menambah wawasan dan pengetahuan, khususnya bagi para generasi muda dalam mewujudkan jati diri bangsa serta memperkuat pondasi diri di tengah arus globalisasi dan moderniasasi sekarang ini.

"Persoalan jati diri dan pondasi yang kuat bagi generasi muda menjadi penting bagi mengingat perlahan tapi pasti generasi muda tengah dihadapkan penggerusan nilai-nilai yang tidak sejalan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai budaya yang kita miliki," katanya.

Ia mengatakan, saat ini banyak kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia menjadi cermin bahwa masyarakat telah kehilangan jati diri dan lebih mengedepankan kekerasan sebagai cara memecahkan masalah yang dihadapi.

"Pilihan kekerasan yang mereka ambil tidak mencerminkan kalau mereka adalah kaum terpelajar yang seharusnya bisa menjadi contoh. Budaya kekerasan dan kemerosotan akhlak yang menimpa generasi muda? belakangan ini semakin terasa," katanya.

Sumadi menontohkan di Sleman sendiri, kasus "klitih" yang melibatkan para pelajar pernah terjadi.

"Tentu ini menjadi keprihatinan bersama, bahwa para generasi muda yang notabene merupakan generasi penerus bangsa dan ujung tombak pembangunan kita memiliki perilaku yang tidak terpuji hingga menyentuh tindakan kriminal," katanya.

Ia mengatakan, pembinaan budi pekerti dan karakter bangsa diharapkan mampu menjadi media, tidak hanya dalam menambah wawasan, namun juga menjadi media diskusi bagi berbagai stakeholder.

"Untuk itu saya berharap para peserta yang hadir pada kesempatan ini dapat memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin, mengingat masa depan para generasi bangsa merupakan tanggup jawab kita bersama," katanya.***2***

(U.V007)
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar