Investor pariwisata diharap libatkan masyarakat lokal

Pewarta : id Mangunan

Pengunjung melihat pemandangan dari puncak Kebun Buah Mangunan, Dlingo, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (1/2). Tempat wisata yang menawarkan panorama pegunungan, dan dibangun Pemkab Bantul pada 2013 di ketinggian 150-200 m diatas permukaan laut itu kian

Bantul, (Antara Jogja) - Pengelola Desa Wisata Mangunan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan investor yang mengembangkan usaha pariwisata di daerah itu untuk melibatkan masyarakat lokal.

"Harapannya ketika di situ ada `resort` yang dibangun pemodal dari luar ya melibatkan sebesar-besarnya masyarakat, termasuk dalam tataran manajemen," kata Ketua Koperasi Wisata Notowono Mangunan (Pengelola Desa Wisata Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul) Purwo Harsono di Bantul, Selasa.

Dia mengatakan investor bisa melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja terampil maupun ahli sesuai kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, misalnya bagian administrasi, sehingga tidak sekadar serabutan.

"Maksudnya gini, kalau kita bicara `homestay` dalam skala besar, seperti `resort` kalau tidak ada kerja sama, ujung-ujungnya kan masyarakat jadi kuli. Kalau kita kepinginnya mereka bisa di bagian administrasinya atau bahkan manajer," katanya.

Ipung, sapaan akrab Purwo Harsono itu, menjelaskan pelibatan pemodal atau investor luar dalam pengembangan pariwisata perdesaan tidak dilarang.

Mereka boleh menanamkan modalnya, akan tetapi memang perlu diatur melalui peraturan desa (perdes).

"Kalau berkaitan investor itu sebenarnya kami sudah menganjukan supaya ada perdesnya, jadi bukannya tidak boleh, karena itu melanggar HAM (Hak Asasi Manusia) juga, boleh tapi mungkin dengan aturan main perdesnya," katanya.

Dia mengatakan berbagai destinasi wisata di Desa Mangunan yang sudah berkembang sejak dua tahun lalu tersebut, saat ini ada belasan titik yang menawarkan potensi wisata berupa hutan pinus, pemandangan alam, puncak, serta tempat-tempat untuk swafoto.

Terkait dengan keberadaan "homestay" atau rumah milik warga di tengah-tengah perdesaan untuk menampung wisatawan lebih lama tinggal di desa wisata kawasan Perbukitan Mangunan, saat ini berjumlah 25 unit.

"`Homestay` tidak harus berupa rumah besar. Jadi ketika `homestay` dari rumah kecil saya minta standar bukan rumah bagus, tetapi rumah yang bersih lingkungan, tertata, rapi, toiletnya nyaman, kalau model toilet kan sebenarnya tidak begitu mahal," katanya.

(T.KR-HRI)
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar