Pakar: kepala sekolah harus kembangkan pendidikan multikultural

id Sekolah

ilustrasi (antarafoto.com) (antarafoto.com)

Yogyakarta, (Antara Jogja) - Kepala sekolah harus mengembangkan kebijakan yang menekankan pada pendidikan multikultural untuk menciptakan sekolah ramah sosial, kata pakar pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta Prof Zamroni.

"Kebijakan sekolah harus dipastikan tidak pernah memarginalkan siapa saja khususnya siswa yang memiliki latar belakang ketidakberuntungan," kata Zamroni dalam pidato pelepasan guru besar purnatugas di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Senin.

Menurut dia, sekolah ramah sosial adalah sekolah yang menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja warga srkolah. Kenyamanan itu akan mendorong dan menjadi basis semua siswa bisa belajar dengan baik sehingga masing-masing siswa memiliki potensi untuk sukses.

"Kenyamanan itu juga akan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi para siswa. Semua warga sekolah, khususnya para siswa benar-benar menikmati hidup dan kehidupan di sekolah," kata Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNY itu.

Ia mengatakan, ketimpangan prestasi yang terjadi selama ini dihadapi dengan cara yang salah, yakni dengan remedial atau perbaikan dengan tambahan jam belajar khusus.

Kebijakan itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah rendahnya prestasi siswa miskin karena yang dibutuhkan adalah kebijakan yang bersifat intervensi langsung untuk menciptakan sekolah yang nyaman bagi semua siswa khususnya siswa dari keluarga dengan status miskin.

Menurut dia, salah satu kebijakan itu adalah mengembangkan pendidikan multikultural yaitu pendidikan yang diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

"Berdasarkan prinsip itu pendidikan menjamin kesetaraan di antara semua siswa dalam mendapatkan pelayanan pendidikan, yang memberikan fondasi bagi setiap siswa untuk sukses mewujudkan potensi diri yang dimiliki secara optimal," katanya.

Ia mengatakan, pendidikan multikultural tidak memerlukan guru yang hebat, melainkan guru yang memiliki keyakinan bahwa para siswa adalah hebat. Implementasi pendidikan multikultural pada level sekolah memerlukan dukungan dari para "stakeholders" khususnya orang tua siswa.

Oleh karena itu, kepala sekolah harus memiliki kemauan dan keberanian untuk mengundang orang tua siswa dalam mengambil keputusan berkaitan dengan pengembangan sekolah. Untuk itu, sekolah sejak awal tahun ajaran baru sudah memiliki rencana kerja yang jelas dan detil untuk tahun depan.

"Berdasarkan rencana kerja sekolah itu kegiatan bersama antara sekolah dan orang tua siswa ditetapkan dan ditaati bersama. Pemegang peran utama implementasi pendidikan multikultural adalah kepala sekolah dan guru," kata Zamroni.


(U.B015)
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar