Golkar DIY berharap caketum mampu tingkatkan elektabilitas

id Gandung

Ketua DPD Golkar DIY Gandung Pardiman (Foto Antara/Hery Sidik)

Yogyakarta, (Antara Jogja) - DPD Partai Golongan Karya Daerah Istimewa Yogyakarta berharap kader yang maju sebagai calon Ketua Umum partai itu adalah yang memiliki kapasitas meningkatkan elektabilitas partai berlambang pohon beringin itu.

"Kader-kader yang bersih, amanah dan dapat membawa perubahan serta mampu meningkatkan elektabilitas?Partai Golkar sehingga menjadi pemenang Pemilu 2019," kata Ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Golkar DIY Gandung Pardiman di Yogyakarta, Selasa.

Gandung mengatakan dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) mendatang, seluruh kader pada dasarnya bisa menjadi bakal calon Ketua Umum. Bakal calon bisa menjadi calon Ketua Umum asalkan mendapat dukungan 150 pemegang suara.

"Calon yang tidak mendapatkan minimal jumlah pendukung 150 suara? atau yang telah disepakati dalam tata tertib dinyatakan gugur. Sedangkan bagi calon yg mendapatkan dukungan suara sesuai tata tertib dapat lanjut pada pemilihan tahap kedua," kata dia.

Namun demikian, ia memberi catatan bahwa kader yang maju sebaiknya yang mampu meningkatkan elektabilitas partai itu untuk berkontestasi pada Pilpres 2019.

Terkait salah satu keluarga Cendana, yakni Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Suharto yang berniat maju sebagai calon Ketua Umum dalam munaslub mendatang, Gandung menilai sebaiknya keluarga Cendana bersatu dulu dalam visi dan misi yang sama.

"Dulu produk keluarga Cendana ada Partai Karya Peduli Bangsa (PPKB) besutan Mbak Tutut, Partai Karya Republik bentukan Ary Sigit dan belum lama ini berdiri Partai Berkarya yang didirikan oleh Tommy Suharto. Jadi menurut saya Keluarga Cendana masih bias menatap Partai Golkar," kata dia.

Partai Golkar pascareformasi, kata Gandung, berbeda dengan Golkar di masa orde Baru. Golkar di masa Orde Baru, menurut dia, hanya menjadi "kuda troya" atau kuda tunggangan politik?dan alat stempel Orde Baru yang tidak boleh?terjadi lagi di Partai Golkar sekarang ini.

"Golkar zamannya Pak Akbar tanjung meski mendapat tekanan yang luar biasa, namun bisa menang dalam pemilu. Hal ini karena menggariskan paradigma baru Partai Golkar dan yang paling urgen adalah pada waktu Partai Golkar menyatakan putus hubungan dengan masa lalu Orde baru. Karena itulah Partai Golkar menang," kata mantan Ketua DPD I Partai Golkar DIY ini.

Namun pada Pemilu 2014, lanjut dia, Golkar terjebak dengan slogan "penak jamanku to" yang mengakibatkan suara Partai Golkar di DIY berkurang 60 ribu.

"Pada pemilu lalu, kami pakai slogan itu, penak jamanku to, tetapi perolehan suara justru turun. Padahal daerah pemilihan keluarga Cendana (Titik Suharto) ada di DIY," kata Gandung.
***2***



(L007)

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar