Pemkab Kulon Progo berkomitmen tekan kasus stunting

id bayi

ilustrasi (antaranews.com) (bayi)

Kulon Progo, (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berkomitmen menurunkan kasus stunting atau kurang gizi kronis yang mencapai 3.496 balita.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo di Kulon Progo, Rabu, mengatakan Kabupaten Kulon Progo termasuk dalam 100 kabupaten dalam penanggulangan stunting.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

"Oleh karena itu mari segenap komponen masyarakat mendukung dan melaksanakan program gerakan masyarakat sehat ini, dalam upaya kita meningkatkan meningkatkan taraf hidup dan kualitas kesehatan masyarakat," imbaunya.

Ia mengatakan pada 2012-2013, kasus stunting di Kulon Progo mencapai 27 persen dari jumlah balita. Kemudian, 2014-2017 menjadi 16 persen.

"Kami minta data stunting dibagikan ke camat-camat supaya ada penanganan khusus," katanya.

Kepala Dinkes Kulon Progo Bambang Haryatno mengatakan sanitasi buruk merupakan salah satu penyebab terjadinya bayi pendek (stunting) di Kulon Progo. Data Dinkes Kulon Progo, kasus stunting sebanyak 3.496 balita.

Ia mengatakan agar anak terhindar dari stunting, orang tua perlu memerhatikan asupan yang bergizi dan seimbang, baik kepada ibu hamil maupun anak itu sendiri. Namun, tidak cukup hanya memerhatikan asupan, melainkan juga sanitasi dan kebersihan lingkungan tempat tinggal. Membangun kesadaran tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan sanitasi yang baik, menjadi fokus intervensi gizi buruk di Indonesia. Gizi buruk dan stunting memiliki keterkaitan.

"Dengan sanitasi yang baik, serta kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan baik, gizi dapat terserap maksimal dalam tubuh ibu hamil terkait kesehatan janin sejak dalam kandungan, serta tumbuh kembang anak bisa berlangsung optimal," katanya.

Bambang menambahkan, orang tua perlu mengamati dan memerhatikan benar tumbuh kembang anak selama 1000 hari pertama kehidupan, dihitung sejak anak masih dalam kandungan, lahir, kemudian berusia dua tahun. Biasanya, orang tua akan merasa bingung melihat anaknya mengalami penurunan pertumbuhan fisik pada usia tiga bulan, kendati sudah memberikan asupan asi yang cukup.

"Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah tetap memberikan ASI kepada anak dan tidak perlu bingung, karena nantinya pertumbuhan mereka akan kembali normal, apabila memang tidak ada kelainan tumbuh kembang," katanya.

(U.KR-STR)
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar