Bantul kembangkan wisata rumah burung hantu

id Burung hantu

Ilustrasi (Foto ANTARA/Mamiek)

Bantul, (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengembangkan kawasan wisata dengan konsep rumah burung hantu yang saat ini sudah dikembangkan di wilayah Kecamatan Sedayu.

"Di Sedayu ini sudah ada rubuhan (rumah burung hantu) di dua desa yaitu Argosari dan Desa Argorejo dan ke depan akan menjadi salah satu potensi destinasi wisata di Sedayu," kata Camat Sedayu Fauzan Muarifin di Bantul, Selasa.

Menurut dia, sebab di Sedayu ini selain memiliki konsep wisata berbasis desa atau desa wisata, juga wisata berbasis kecamatan, dan salah satu kontennya adalah mengoptimalkan rubuhan."Dan ini sedang kita gali bagaimana kemungkinan pengembangannya, karena di Sedayu sudah ada magnet yang kunjungan wisata sangat signifikan yatu Museum Soeharto," katanya.

Fauzan mengatakan, untuk rubuhan di Sedayu ini sebenarnya tidak hanya satu-satunya di Bantul dalam hal ini Sedayu, namun ada di beberapa tempat terutama di daerah persawahan yang terdapat banyak tikusnya.

Ia mengatakan, seperti di wilayah Kecamatan Sedayu ini populasi tikus sangat tinggi yang bahkan menyerang lahan pertanian milik petani di Desa Argorejo dan Argosari, sehingga rubuhan didirikan di daerah itu.

"Karena untuk membasmi tikus itu sulit sekali, meskipun kita sudah mengadakan beberapa kali gropyokan tikus, tapi tetap masih ada. Dan di tahun 2005 kita mengadakan studi banding ke Demak Jawa Tengah kaitannya membasmi tikus melalui burung predator," katanya.

Menurut dia, dari hasil studi banding ke Demak itu oleh gabungan kelompok tani (gapoktan), pemerintah kecamatan Sedayu tersebut kemudian juga dilakukan Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul dan instansi terkait di DIY.

"Kemudian dari itu didapatknan respon dari Bantul dan kerja sama antarpetani dan bantuan burung hantu dari Pemkab kemudian dibentuklah rubuhan serta burungnya. Jadi khusus rubuhan ini ada di Argorejo dan Argosari," katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya ada empat desa di Kecamatan Sedayu, namun untuk Desa Argomulyo dan Desa Argodadi tidak dibentuk rubuhan, karena memang populasi tikus tidak berkembang di dua desa tersebut.

"Jadi di dua desa itu paling banyak tikusnya, sehingga konsep rubuhan ini yang dipakai untuk mengatasi tikus, dan nantinya akan dikembangkan sebagai wisata edukasi konsep rubuhan," katanya.***3***


(KR-HRI)


Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar